Minggu, 29 Agustus 2010

Ketua KPK Baru

Sebentar lagi Idul Fitri. Anak-anak mulai merengek kepada ibu mereka, meminta baju baru. Anak-anak laki-laki mulai merengek kepada ayah mereka dibelikan spatu baru. Sementara yang dewasa, beranak dan bercucu diam-diam pun menginginkan hal yang baru. Entah, mobil baru atau TV baru. Beberapa yang berekonomi kecil berharap bisa membersihkan rumah dan lingkungan di hari yang fitri nanti. Itu saja.
Gema semangat pemeberantasan korupsi (kalau ada) pun mulai disirami gairah baru. Dua orang calon nahkoda KPK telah ditentukan. Mereka adalah Busyro Muqodas dan Bambang Wijoyanto. Dua-duanya bukan nama asing di dunia hukum Indonesia. Silakan anda korek-korek track record mereka,tetapi saya kurang begitu tertarik. Bukan karena susah mencari informasi apa saja yang prestasi atau pekerjaan yang pernah mereka lakukan, tetapi karena kebanyakan masyarakat Indonesia pun tak akan mengetahuinya dan menganggap itu penting. Tetanggaku tak kenal mereka. Teman-temanku di FB juga adem ayem. Paling hanya satu dua yang membahas. Setelah itu mereka lebih tertarik kepada perut dan uang masing-masing.
Orang di sekitarku tak perduli siapa ketua KPK. Rakyat tak punya uang yang bakal di korupsi. Mereka merasa tak punya uang di BI. Pak tani di desa ku tak punya uang di BUMN-BUMN, jadi biarin aja mau dikorupsi atau tidak. Uang di BUMN yang punya orang-orang berdasi. Rakyat tidak. Mereka paling kebagian tak seberapa, ketika uang itu dibagikan lima tahun sekali saat pemilu.
Mungkin aku pun tak perlu mengurusi siapa ketua KPK. Akan ku kubur kegelisahan terhadap bangsa ini di suasana gembira 1 Syawal. Menggoda anak-anak kecil sampai mereka menangis, setelah itu kubagikan kue-kue kecil.
Konon para pemimpin bukanlah mereka yang berhasil mencapai target semata. Konon pemimpin bukan orang yang paling ditakuti. Namun, pemimpin adalah mereka yang mampu membawa rakyat ke padang rumput yang hijau dan penuh kesejahtraan. Bak seorang gembala memanjakan ternaknya. Mungkin itu karena itulah Muhammad saw pernah jadi gembala di masa kecil, agar jadi pemimpin yang pengayom dan pelindung.

Selasa, 24 Agustus 2010

Ki Bagus Hadikusumo (1890 – 1954) : Kontroversi Piagam Jakarta


Di Indonesia, ketika masa penjajahan Kekaisaran Majusi Jepang (1942-1945) penduduk yang mayoritas Muslim dipaksa untuk seikerei yakni membungkuk (mirip ruku’) ke arah Tokyo sambil memusatkan hati kepada Hirohito (1901-1989). Hirohito adalah kaisar Jepang yang dianggap sebagai keturunan Dewata yang katanya turun dari kahyangan untuk kemakmuran manusia dalam lingkungan Asia Raya yang diberi gelar Tenno Heika (yang maha mulia Kaisar).

Doktrin fasisme Jepang ditanamkan pula pada seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Setiap jam tujuh pagi semua murid wajib seikerei. Tentu hal itu membuat berang setiap Muslim yang imannya tertancap kokoh dalam jiwa.

Maka bangkitlah para ulama menentang arus kemusyrikan, termasuk Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum Muhammadiyah saat itu. Ia berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam untuk memerintahkan umat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari “Seikerei terlarang bagi umat Islam karena bertentangan dengan tauhid”, tegasnya.

Pemimpin Umat


Ki Bagus dilahirkan di Kauman Yogyakarta dengan nama Raden Hidayat pada 11 Rabiul Akhir 1038 Hijriyah. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta. Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kyai di Kauman.

Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) ditambah mengaji dan besar di Pesantren tradisional Wonokromo. Tetapi berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitab-kitab fiqih dan tasawuf akhirnya ia menjadi orang alim, mubaligh, dan pemimpin umat.

Secara formal, disamping kegiatan tabligh, Ki Bagus pernah menjadi Ketua Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, Anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah.

Ki Bagus adalah seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk mencontoh Nabi Muhammad saw yakni menginstitusionalkan Islam. Bagi Ki Bagus pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alsan ideologis, politis dan juga intelektual.

KI Bagus juga sangat produktif menuliskan buah pikirannya. Salah satu buku yang ia tulis adalah Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlak Pemimpin. Maka dalam rangka menegakkan hukum Islam di Indonesia, di masa penjajahan Kerajaan Protestan Belanda, ia dan beberapa ulama lainnya terlibat dalam sebuah kepanitian yang bertugas memperbaiki peradilan agama (priesterraden commisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam.

Akan tetapi Ki Bagus dikecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan hukum adat melalui penetapan ordonansi 1931.

Kekecewaanya ia ungkapkan kembali saat menyampaikan pidato di depan sidang Badan Persiapan Usaha Penyelidik Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berubah menjadi Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) itu.

Namun ia tidak patah arang. Meskipun BPUPKI dibuat oleh penjajah Jepang yang menunjuk pentolan nasionalis sekuler Soekarno sebagai ketuanya. Ki Bagus berusaha merealisasikan cita-citanya melalui badan itu. Terjadilah perdebatan sengit antara pejuang syariah dengan kelompok nasionalis sekuler dan Kristen.

Pada 22 Juni 1945, panitia sembilan yang dibentuk BPUPKI menandatangani Rancangan Undang-Undang Dasar negara RI yang belakangan disebut Piagam Jakarta. Meski telah disahkan namun tetap menimbulkan kontroversi. Pihak Islam belum puas. Begitu juga, Kristen diwakili Latuharhary sempat menyoal rumusan tersebut.

Meski demikian, perdebatan a lot terus terjadi antara pejuang syariah dan kelompok lainnya terutama terkait dengan dasar negara dan formalisasi penerapan syariah Islam. Ki Bagus tentu saja di kubu Islam yang menginginkan negara berdasarkan Islam dan memberikan kebebasan kepada agama lain untuk menjalankan agamanya.

Sedangkan Soekarno berusaha menengahi dengan gaya kompromi (baca: mencapurkan yang haq dan batil). Dalam rapat BPUPKI 11 Juli 1945, Soekarno menyatakan.

Saya ulangi lagi bahwa ini suatu kompromis untuk menyudahi kesulitan antara kita bersama. Kompromis itu pun terdapat sesudah keringat kita menetes. Tuan-tuan, saya kira sudah ternyata bahwa kalimat dengan didasarkan kepada Tuhan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya sudah diterima panitia ini.”

Pada rapat 14 Juli 1945, Ki Bagoes mengusulkan agar kata bagi pemeluk-pemeluknya dicoret. Jadi bunyinya hanya Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.

Karena Ki Bagoes menyadari Islam bukan hanya mahdhah yang hanya mengatur ritual kaum Muslim tetapi juga ajaran yang sempurna yang mengatur negeri dan masyarakat seperti yang telah di contohkan Rasulullah saw.

Nabi Muhammad saw memipin Madinah dengan syariat Islam padahal penduduknya plural, disamping bermacam suku dari berbagai bangsa tetapi bermacam agama seperti Yahudi, Islam, Kristen dan penyembah berhala.

Pendapatnya pun ditolak kelompok nasionalis sekuler. Soekarno lagi-lagi meminta kepada seluruh anggota BPUPKI; “Sudahlah hasil kompromis antara dua pihak, sehingga dengan adanya kompromis itu, perselisihan diantara kedua pihak hilang. Tiap kompromis berdasar kepada memberi dan mengambil, geven dan nemen.”

Namun sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945, dihapuslah kalimat dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya (tujuh kata) itu alih-alih hanya menghapus tiga kata terakhirnya saja seperti yang diusulkan Ki Bagoes.

Tujuh kata tersebut dihapus dengan dalih golongan Protestan dan Kristen lebih suka berdiri di luar Republik bila tujuh kata tersebut masih tercantum dalam UUD 1945. Maka Kasman Singodimejo, anggota panitia sembilan, pun melobi kelompok Islam termasuk Ki Bagoes agar setuju tujuh kata tersebut diganti dengan Yang Maha Esa.

Almarhum Hussein Umar (terakhir sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) menyatakan masih terngiang ucapan Kasman dalam sebuah perbicangan. Kasman merasa turut bersalah karena dengan bahasa Jawa yang halus Kasman menyampaikan kepada Ki Bagoes untuk sementara menerima usulan dihapusnya tujuh kata itu.

Kasman terpengaruh oleh janji Soekarno dalam ucapannya. “Ini adalah UUD sementara, UUD darurat, Undang-undang kilat. Nanti 6 bulan lagi MPR terbentuk. Apa yang Tuan-tuan dari golongan Islam silakan perjuangkan disitu,” ujar Kasman menirukan bujukan Soekarno.

Kasman berpikir, yang penting merdeka dulu. Lalu meminta Ki Bagoes bersabar menanti 6 bulan lagi. Bung Hatta juga menjelaskan bahwa Yang Maha Esa itu adalah tauhid. Maka tentramlah hati Ki Bagoes. Karena dalam pandangan Ki Bagoes hanya Islam-lah agama Tauhid.

Namun enam bulan kemudian Soekarno tidak menepati janji. Majelis Permusyawaratan Rakyat tidak pernah terbentuk. Pemilu yang pertama baru dilaksanakan 10 tahu sesudah proklamasi (1955). Konstituante sebagai lembaga konstitusi baru bekerja pada tahun 1957 – 1959 (hingga dekrit 5 Juli 1959). Sementara Ki Bagoes yang diminta menunggu oleh Kasman Singodimejo meninggal dalam penantian.–Joko Prasetyo;Media Umat ed.40-

Minggu, 22 Agustus 2010

Perampok

Sekitar seminggu yang lalu masyarakat dikejutkan dengan peristiwa perampokan yang terjadi di Medan. Yang membuat terkejut bukan perampokan itu sendiri, karena peristiwa-peristiwa kriminal kini telah menjadi berita biasa. Sama seperti tayangan gossip ataupun acara keagamaan yang punya slot tayangan khusus dan eksklusif. Kecepatan, organisasi, cara kerja dan senjata yang dipakai para perampok kemarinlah yang membuat masyarakat terkejut. Jumlah perampok lebih dari 10. Bekerja dalam rentang waktu kurang dari 30 menit. Di siang hari, ditepi jalan raya ramai. Memakai senapan AK-47 dan tak segan membunuh polisi yang berjaga. Seorang pembawa acara tv malah menyamakan aksi perampokan itu dengan film-film Holywood untuk menggambarkan bagaimana fantastisnya peristiwa itu.
Peristiwa ini segera menjadi berita yang segar untuk tv-tv dan koran-koran. Berita ini sedikit mengalahkan berita usulan berani masa kerja presiden untuk diperpanjang. Beberapa mantan kriminil menganggap hal itu biasa. Toh, tahun 70-an dan 80-an hal itu pernah terjadi dengan hasil jarahan yang lebih fantastis. Pengamat kriminal memprogandakan (lagi) upaya-upaya pencegahan kriminal (oleh entah siapa) agar hal seperti ini tak terjadi lagi.
Harus diakui keterkejutan masyarakat karena telah menganggap masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang santun dan ramah tamah. Asumsi ini sudah berdengung di telinga sejak pemerintahan orde baru masih sehat memerintah. Sulit untuk membantah bahwa masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang ramah dan mudah tersenyum (bukan karena gila tentunya), tetapi bukti-bukti bahwa ketidak-beresan sedang berlangsung di negeri ini tak berhenti mengemuka. Kalau pengetahuan sejarah kita agak lebih lengkap maka kita akan tahu sepak terjang Joni Indo atau Anton Medan sehingga tak perlu kita terkejut lagi. Dan seandainya catatan sekarah kita agak lebih lengkap, maka kita akan kenal dengan Edi Tansil dkk sehingga sekarang kita tak perlu bingung kalau masalah penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi saat ini sampai pada level yang membuat bingung orang cerdas sekalipun.
Entah apa yang merampok daya siaga kita untuk mengantisipasi peristiwa-peristiwa. Musibah atau pemberitaan kriminal dan a-moral di televisi hanya meninggalkan efek keterkejutan. Setelah itu tidak ada apa-apa lagi sampai Allah mengizinkan datangnya ‘kejutan’ lain. Dan kemudian kita terkejut lagi dan lupa lagi.
Tulisan-tulisan ini mencoba merasakan apa yang terjadi, bukan hanya sekadar mengetahui. Tulisan ini mencoba menjajaki lagi isi otak dan hati ini agar bisa menjawab pertanyaan “Sudahkah kita belajar dari semua itu?

Sabtu, 14 Agustus 2010

Politik Warisan : Fenomena Keluarga Politisi di Amerika

Di Indonesia wilayah politik bak ladang bercocok tanam bagi para anak-anak politisi. Mulai dari Puan Maharani,Inggrid Kansil hingga Agus Yudhoyono dengan nyamannya duduk di gedung dewan. Karier kepemimpinan seperti ini mengingatkan pada teori kepemimpinan Weber, yaitu kepemimpinan kharismatik (otoritas kharismatis).

Sejak zaman Soekarno, atau bahkan sejak zaman kerajaan dan kesultanan, kharisma pemimpin menjadi variabel berpengaruh dalam kancah kekuasaannya. Ambil contoh SOekarno, sampai sekarang masih banyak pengagumnya yang membesarkan bagaimana beliau berpidato, berpikir dan berkata. Bahkan Soeharto, Gus Dur, Megawati dan Yudhoyono adalah pemimpin bercorak kharismatik. Dalam kepemimpinan Kharismatik faktor keturunan hingga faktor tindak-tanduk menjadi faktor yang menciptakan kekaguman hingga akhirnya ketaatan.

Fenomena ini ternyata berbeda dengan apa yang terjadi di Amerika. Anak-anak para politisi lebih tertarik dunia jurnalistik dibanding sibuk silat lidah di parlemen.

John F. Kennedy Jr.
Anak mendiang Presiden JFK Sr. ini meluncurkan majalah politik "George". Tagline-nya cukup menarik, "Bukan Politik Seperti Biasa". Dengan cover yang 'sexy', 'George' ingin meraih perhatian berbekal 'seleberitas politik'. Sayangnya, pada tahun 2001 majalah ini ditutup. JFK Jr sendiri - yang pada tahun 1995 dinobatkan sebagai "Sexiest Man of the Year", meninggal 2 tahun sebelumnya dalam sebuah kecelakaan pesawat.

Meghan McCain
Nama McCain menarik perhatian di seluruh dunia ketika pemilihan presiden Amerika yang mempertemukan Barack Obama melawan John McCain-ayah Meghan. Perempuan berusia 24 tahun ini memiliki blog di 'The Daily Best' dan pernah muncul di jaringan tv dan tv kabel Amerika seperti "The View", "The Rachel Maddow Show" dll. Blog milik McCain mengulas berbagai hal mulai dari 'primadona' Kongres sampai gaptek internet di kalangan KOngres. McCain terjun langsung di blognya dengan menulis sendiri headline. Sejauh ini ia cukup mendapat perhatian, terutama berkaitan dengan 'perang tulisan' antara dirinya dengan kalangan konservativ.

Alexandra Pelosi
Perempuan berumur 38 tahun ini adalah anak dari Nancy Pelosi, juru bicara kepresidenan Amerika. Alexandra aktif membuat dokumenter politik. Pada tahun 200 ia mendapat pengahargaan Emmy Award atas karya dokumenter yang ia buat, "Journeys with George". Dokumenter itu menguapas sepak terjang George W. Bush dalam kampanye pemilihan presiden hingga meraih kemenangan. Karya-karya lain mendapat perhatian cukup baik antara lain,"Right America: Feeling Wronged," "The Trials of Ted Haggard" dan "Friends of God: A Road Trip with Alexandra Pelosi."

Maria Shriver
Nama ini kurang dikenal di Indonesia bahkan di dunia. Tetapi, suaminya - "Sang Terminator" - Arnold Scwarzneger adalah Gubernur California tidak perlu dipertanyakan lagi popularitasnya.
Meski menjadi perempuan no.1 di California, karier Shriver bukanlah hadiah dari popularitas sang suami. Ia telah bekerja di dunia jurnalistik selama lebih dari 20 tahun. Pada tahun 1977 ia sudah menjadi penulis berita dan memproduseri KYW-TV di Philadelphia. Pada tahun 1989 hingga 2003 Shriver menjadi reporter untuk program "Dateline NBC" di jaringan televisi NBC.

Keluarga Reagen
Sebagai seorang aktor, anak-anak Reagen juga terbiasa dengan aktifitas ayahnya yang biasa berakting di depan kamera. Michael Reagen misalnya, menjadi host program radio di 'Radio Amerika' yang ditayangkan secara nasional. Sementara adiknya, Ron Reagen juga menjadi host di 'Air Amerika'. Kegiatan Ron yang lain adalah analis politik untuk MSNBC, menulis di media-media nasional dan menjadi host untuk program berita "Front Page" di jaringan televisi Fox.

Lain Amerika lain Indonesia. Dalam satu dekade ke depan, peluang para keluarga politikus untuk bisa berprestasi akan lebih diarahkan ke dunia politik. Mungkin, karena budaya sungkan dan memandang 'bibit' lebih diutamakan daripada 'bobot' ataupun 'bebet'.

Journalism: the new politics position

Over the weekend, the AP reported that the former first daughter is joining NBC's "Today" show as a correspondent. Jim Bell, the show's executive producer, says Mrs. Bush Hager won't be covering politics, but will focus on stories that are close to her heart, like "education, urban education, women and children's issues and literacy."

Politicians and journalists have always had a rocky relationship, but with her new monthly appearances, Hager joins an ever-growing list of children of prominent politicians who are trading their guest spots for press passes — Meghan McCain, Alexandra Pelosi, John F. Kennedy Jr., Ron Reagan, just to name a few. Here's a look at some of the political children who opted for covering, rather than entering, politics:

John F. Kennedy Jr.: In 1995, the "Sexiest Man of the Year" proved that he had the brains to match those stunning looks, launching the political magazine, George. With the tagline, "Not just politics as usual" and sexy covers, George attempted to put a hip, celeb-driven spin on politics. The magazine eventually folded in 2001, almost two years after JFK Jr., his wife Carolyn, and sister-in-law were killed in a plane crash.

Meghan McCain: The daughter of Sen. John McCain, 24, has a blog on the The Daily Beast and has appeared on "The View," "The Rachel Maddow Show" and other network and cable TV shows. McCain's blog covers everything from the GOP's lack of Internet savvy to Congressional "hotties." McCain makes headlines as often as she writes them; so far, she's already publicly rumbled with fellow conservatives Ann Coulter, Michelle Malkin and Laura Ingraham.

Alexandra Pelosi: Daughter of Speaker of the House Nancy Pelosi, Alexandra, 38, has made a name for herself with her political documentaries. She won an Emmy Award for her 2000 documentary, "Journeys with George," in which she chronicled George W. Bush's campaign to his eventual victory. Other notable documentaries include the HBO specials "Right America: Feeling Wronged," "The Trials of Ted Haggard" and "Friends of God: A Road Trip with Alexandra Pelosi."

Maria Shriver: OK, so she's the current first lady of California (and member of the vast Kennedy clan), but she boasts a journalism career that has spanned more than 20 years. Shriver started out as a news writer and producer for Philadelphia's KYW-TV in 1977, eventually working her way up the ladder to co-anchor several top network shows. Shriver was a reporter for NBC's "Dateline NBC" from 1989 to 2003.

The Reagans: With a former actor for a father, it's not a big leap for Ronald Reagan's children to feel at home in front of the camera. Michael Reagan hosts a nationally syndicated radio show on Radio America, while younger brother Ron hosts his own show on Air America. Ron has also served as a political analyst for MSNBC, written for several national publications and co-hosted Fox's "Front Page" news magazine in the '90s.

Sister Patti, the "black sheep" of the family, has been in front of the camera in various forms — as an actress and a Playboy cover model. She's also written several books and writes magazine essays on a variety of subjects, including her own family.

Ethan Axelrod: You may not know his name yet, but you're sure to recognize his father's: David Axelrod is Senior Advisor to President Barack Obama, having served in that capacity since Obama's 2004 Senate campaign. Before hitching his wagon to Obama, Axelrod Senior was a political writer for the Chicago Tribune. Axelrod Junior, 22, was recently hired to edit The Huffington Post's upcoming local Denver site.

In the wake of Sen. Edward Kennedy's death last week, speculation inevitably focused on which of the younger generation would "pick up the torch" for the legendary political dynasty. But as more political children who are writing the headlines, instead of making them, maybe it's time for the new generation to start their own dynasty.

— Lili Ladaga

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons