Sabtu, 04 Desember 2010

Anak-anak Muda Terkaya di Indonesia

Menurut majalah Forbes Indonesia, tahun 2010 ini ada 3 anak muda paling kaya di Indonesia. Siapa mereka ? Tentu saja bukan saya.

Mereka adalah :

  1. Ciliandra Fangiono. Umurnya baru 34 tahun, dengan kekayaan sebesar USD 1,1 miliar. Dia mengepalai First Resources yang mengelola 100 ribu hektar lahan minyak kelapa sawit di Sumatra dan Kalimantan. First Resources didirikan Martias, ayah Ciliandra, yang sejak 2003 tak banyak melibatkan diri di perusahaan itu.
  2. Agus Lasmono Sudwikatmono, berumur 39 tahun, memiliki kekayaan sebesar USD 845 juta. Dia adalah wakil presiden komisaris di Indika Energy, penambang batu bara. Dari namanya sudah bisa ditebak kalau Agus adalah putra dari Sudwikatmono (eksekutif papan atas dari grup Salim) --sepupu mantan presiden Soeharto.
  3. Sandiaga Uno. Pengusaha berumur 41 tahun ini sempat mencalonkan diri menjadi Ketua Kadin. Ia tercatat berkekayaan USD 795 juta, hampir dua kali lipat tahun sebelumnya yang USD 400 juta. Ia ikut mendirikan Saratoga Capital bersama Edwin Soeryadjaya (di posisi 13 terkaya) pada 1998. Ia juga turut mengangkat Adaro Energy ke salah satu perusahaan penambang batu bara kedua terbesar di Indonesia.
Sayangnya, daftar orang-orang terkaya di Indonesia sekadar daftar saja. Membuat kita bangga ? Bisa jadi. Membuat kita sedih ? Bisa juga. Apalagi kalau melihat jumlah penduduk miskin di Indonesia yang menurut BPS (2010) adalah 31 juta. Tentu itu bukan angka yang sedikit. Apalagi kalau hanya dibandingkan dengan 3 orang muda terkaya se-Indonesia. Angka 30 juta adalah jumlah kepala keluarga. Kalau diasumsikan setiap KK tersebut memiliki 1 orang anak berarti sudah jelas kita punya 60 juta orang tergolong miskin. Menurut PBB (2008), penduduk miskin adalah mereka yang berpenghasilan kurang dari $ 2 per hari.
Nah lho...?

Jumat, 19 November 2010

Coffee Lover

Tak ada cerita istimewa di balik kisah ‘cofee lover’-ku. Aku bukan kreator campuran kopi yang istimewa. Aku juga bukan penulis artikel makanan dan minuman terkenal di tabloid atau majalah kuliner di ibu kota. Aku bukan orang seperti itu. Aku bahkan lebih suka politik. Aku orang biasa.

Cerita di balik ‘cofee lover’ku adalah ketegangan otak dan kebosanan atas hiburan-hiburan yang ada di televisi. Bagiku kopi itu adalah keindahan, sementara ‘stress reducer’ berupa pacaran, nge-game, tidur berlebihan dst adalah ‘stress reducer’ yang sama sekali tidak indah. Apalagi kalau dibandingkan dengan drugs, sex, alcohol, gambling, beting dll.

Cerita di balik ‘cofee lover’ ku adalah tentang buruh kopi, petani kopi, modal petani kopi, pengepul kopi, buruh pabrik kopi, karyawan pabrik kopi dan daya saing kopi Indonesia di dunia internasional. Setiap yang ada di depanku tidak boleh hanya kulit. Aku harus paham juga kulit ari, otot-otonya, urat-urat yang mengalirkan darah, tulang-tulang rawan yang menjaga persendian sampai ke tulang-tulang dan zat-zat di dalam sum-sum tulangnya. Intinya setiap hal kupahami bukan sekedar lahiriah-nya saja tetapi yang tidak terlihat (padahal keberadaaannya pasti) pun aku kenali juga. Ini bisa dan tidak mustahil diterapkan di setiap segi kehidupan. Bukan hanya soal kopi. Permasalahan orang tua marah, suporter bentrok, remaja-remaja banyak yang hamil di luar nikah, Gayus liburan ke Bali sampai ke hal-hal kecil seperti mahalnya tempe, tahu dan gorengan.

Bagi saya ini bukan kecerdasan emosional semata. Bagi saya ini bukan gaya khas politisi dan dosen-dosen ilmu sosial. Bagi saya ini bukan hanya sekadar pengamatan sosial dan cara pandang komprehensif. Ini cara pandang agama !

Anda pasti kaget ? Minimal anda bingung.

Di dalam Al Qur’an ayat 3-4 surat 2, orang-orang yang yakin (beriman) memiliki beberapa indikator. Salah satu indikator adalah yakin pada yang ghaib. Dalam terminologi agama, ghaib yang utama diduduki oleh iman pada Tuhan, hari akhir dll. Semua ‘pihak’ itu ghaib bukan karena mereka tidak bisa dijangkau indra manusia tetapi karena belum diizinkan oleh Tuhan untuk terjangkau oleh indra manusia. Posisi mereka hampir mirip kata ‘orang ketiga’ dalam khasanah bahasa Indonesia. Sebagai intermezo, bahasa Arab untuk orang ketiga dalam ilmu nahwu adalah ‘ghaib’.

Artinya, kalau aku ingin jadi manusia yang baik di hadapan Tuhan, dalam hal keyakinan (agama) aku harus yakin esksistensi (iman) ‘pihak-pihak’ yang ghaib itu.

Artinya, kalau aku ingin jadi manusia yang baik di hadapan Tuhan, dalam urusan dunia aku juga harus paham dan mampu menelusuri keberadaan setiap hal ‘ghaib’ dalam urusan dunia. Karena dunia adalah tempat untuk ‘bercocok tanam’ kebaikan dan kemakmuran bagi manusia, maka aku juga harus paham ke ‘ghaib’an dunia. Aku harus paham bahwa setiap perbuatan ada unsur-unsur lain yang pengaruh-mempengruhi. Ketika aku beli satu sachet kopi instan, aku sadar aku sedang membeli keringat petani kopi, lelah badan buruh pertanian kopi, pengorbanan pengepul kopi, kepatuhan karyawan pabrik kopi, manajer pabrik kopi, pemilik saham pabrik kopi, pajak pertambahan nilai kemasan kopi dll. Dari demikian panjang pihak-pihak ‘ghaib’ yang terlibat, berapa rupiah kira-kira yang masuk ke kantong petani atau buruh kopi ? Ingat, buruh dan petani adalah pihak yang paling lemah sekaligus paling banyak jumlahnya di negeri ini. Kira-kira dari rupiah itu masyoritas masuk kemana ? Dari situ saja kita bisa paham kondisi petani dan buruh kita.

Anda mungkin bertanya buat apa aku mengetahui hal-hal seperti itu. Aku hanya belajar dari itu semua. Goal dari pembelajaran itu aku akan belajar ramah, simpati, mau menghibur dan menjadi tetangga yang baik bagi tetangga-tetanggaku yang kebanyakan petani. Itulah wilayahku. Jangan tanyakan regulasi, kebijakan pemerintah, anggaran Kementerian Pertanian dll. Itu semua akan kujawab kalau aku jadi Presiden atau Menteri.
Tapi, rasanya mustahil aku jadi salah satu dari dua itu.

____
Sore ini ada dua gelas di meja komputerku. Selain buku-buku, sebuah kamus, sebuah pensil berwarna oranye, satu set speaker aktif tua, 3 buah flash disk rusak dan sebuah flashdisk yang masih berfungsi; dua gelas itu menambah keramaian mejaku. Meja kompuerku memang tidak terlalu rapi. Aku juga jarang membersihkannya. Aku merapikan mejaku bukan dalam rangka kebersihan. Aku merapikannya sekadar membuktikan bahwa aku mau dan pernah membersihkannya.
Mungkin orang bilang aku pemalas. Aku memang pemalas sampai aku mau berbuat sesuatu. Pemalas hanya keadaan sementara. Bahkan kata ‘pemalas’ pun tidak berlaku tetap. ‘Pemalas’-ku bukan seperti ‘petinju’ dalam kata “Chris John menjadi petinju terbaik di Indonesia saat ini”. “Pemalas”ku seperti kata ‘pemukul’ dalam kata “Seorang pemukul artis diamankan polisi setelah artis yang bersangkutan melaporkan kawan satu band-nya itu ke Polres Jakarta Pusat”.

Stop soal malas.

Hari ini aku sudah menghabiskan 2 gelas kopi. Aku memang penikmat kopi. Kebetulan dua kopi yang hari ini kunikmati adalah kopi instan buatan pabrik. Artinya, dalam satu sachet kopi itu sudah ada krim dan gulanya.
Pkc# November 17, 2010

Sabtu, 30 Oktober 2010

Bencana dan Hikmah

Sekian pidato pada bulan ini bertemakan bencana. Sekian khutbah-khutbah di mesjid dan gereja menyinggung-nyinggung masalah bencana. Obrolan selepas pergi ke pura, vihara atau klenteng juga tak luput membicarakan masalah bencana. Mereka bicara tentang Merapi yang "merokok" dan memakan korban 6 orang. Mereka bicara tentang Mentawai yang "main air" dan menewaskan ratusan orang.

Semua itu adalah cerita yang "adiktif". Enak untuk dijadikan bahan pidato. Pendengarnya akan merasa dalam ekstase dan tiada tara hanya untuk dilupakan setelah selesai. Dan kesimpulannya pun sama setiap saat dan setiap tahun; "Manusia harus berubah agar bencana tidak datang lagi". Dan kemudian forum-forum itu bubar dan tidak ada perubahan apa pun yang terjadi di antara para jamaah atau peserta forum. Dan jangan pula berharap orang lain yang tak pernah mendengar pidato itu akan berubah.

Manusia Indonesia memang tidak perlu berubah sepertinya. Kita sudah terbiasa dengan bencana. Dan bencana lama-lama jadi teman lama yang kalau tidak pernah muncul dikangeni tetapi kalau muncul malah bikin ribut. Dan satu kesimpulan dan hikmah yang muncul dari bencana-bencana itu adalah : SEMAKIN KERAS BENCANA MENGINDIKASIKAN KEBEBALAN INDONESIA UNTUK MAU BERUBAH DAN MELANGKAH KE WILAYAH BARU DAN SEGAR.

Selamat menikmati (kebebalan) Indonesia...

Senin, 04 Oktober 2010

Senyumanmu Yang Kutunggu

Adegan 1
Di sebuah SPBU. Seorang pegawai menyambut dengan senyuman.
“Selamat pagi, Pak”, katanya ramah.
“Mau isi berapa?” sambil tersenyum. Tapi tak se-spontan senyuman yang pertama.
Bapak itu menjawab pendek.
Si bapak pembeli bensin, tak tampak ikut tersenyum. Wajahnya datar. Biasa-biasa saja, malah
terkesan tak mendengar dan pura-pura memperhatikan hal lain.
“Uangnya pas ya, Pak” kata si pegawai. Masih ramah.
“Silakan isi angin atau air bila membutuhkan. Terima kasih.”
Si bapak tetep kalem. Mengangguk pun tidak. Seolah-lah tak mendengar kata-kata itu.
Adegan 2
Di sebuah SPBU. Seorang pegawai menyambut dengan senyuman.
“Selamat pagi, Pak”, katanya ramah. Senyumnya lebar mengembang. Mungkin mantan model
iklan pasta gigi.
“Pagi,” jawab seorang pemuda antusias,”Eh mbak, mau ga main ke rumah saya? Ga ngapa-
ngapain, anda cukup ketemu saya. Senyum. Dan saya kasih Rp 5.000”
Si pegawai kaget. Dia melongo. Dia tidak pernah di training menghadapi pelanggan macam
ini.
***
Adegan pertama adalah adegan yang sudah biasa kita lihat sehari-hari. Adegan kedua adalah
adegan yang hampir mustahil terjadi di negeri ini. Saya sendiri yang punya ide itu pun tidak punya
keberanian melakukannya untuk menguji benar-tidaknya konsep berpikir saya.
Ide ini berawal dari para pelayan SPBU Pertamina yang kian hari kian ramah dan senang
tersenyum. Namun, tak ada seorang pun yang menghiraukan. Bahkan hampir tak ada yang
membalas senyuman mereka. Karena senyuman mereka adalah senyuman bayaran. Mereka
tersenyum karena dibayar. Bukan karena anda ganteng atau karena mereka memang orang yang
ramah.
Saya tidak mencela mereka yang tersenyum karena pekerjaan atau karena uang. Uang yang
mereka dapat pun halal. Namun, makin lama makin banyak keindahan, keramahan dan kebaikan-
kebaikan yang tak tulus. Semakin gampang kita mendapatkan keramahan, kebaikan-kebaikan di
tempat-tempat komersial seperti bank-bank, supermarket2, toko-toko dll namun semakin sedikit
kita temukan keramahan, ketulusan dan kebaikan-kebaikan di kehidupan nyata.
Kalau saya perkirakan, senyum mereka bernilai 200 rupiah. Bila sehari ada seratus pelanggan
dan mereka kerja 26 hari sebulan berarti sebulan mereka dapar 500 ribuan untuk tersenyum.
Sisanya adalah bayaran kehadiran mereka, uang makan dll. Artinya, bila mereka profesional,
tawaran 5.000 untuk tersenyum tak boleh disia-siakan.
Saya jadi ingat sebuah hadist, “Tersenyumlah, karena senyummu kepada saudaramu adalah
sedekah.” Kalau Nabi hidup sekarang, beliau mungkin akan kecewa karena ‘hadist’ yang sekarang
berlaku adalah “Tersenyumlah, karena tersenyum itu bernilai 200 rupiah.”
***
Daripada termenung karena mikirin degradasi senyum karena kekuatan uang, lebih baik aku
mendengarkan musik. Kunyalakan winampku. Dan ku-klik tombol play. Satu lagu dari Sabrang
Mawa Damar Panoeloeh dengan grup band-nya ‘Letto’ :
. . .

Oh bukanlah
cantikmu yang kutunggu
Bukanlah itu yang aku mau
Tetapi ketulusan hati yang abadi

Ku tahu mawar tak seindah dirimu
Awan tak seteduh tatapanmu
Namun, ku tahu yang kutunggu
Hanyalah senyumanmu


P# 23 September 2010

Senin, 27 September 2010

Tata Negara


Bangga juga diri ini kemarin belajar mu’awin tafwidh. Bangga karena apa yang aku bahas dengan teman-teman hampir mirip dengan pembahasan dan masalah yang saat ini sedang ramai di negeri ini, yaitu kasus Yusril Ihza Mehendra yang dijadikan tersangka. Dalam konteks tanggung jawab dan pengangkatan Menteri (dalam kasus ini Yusril) dan Mu’awin sama-sama diangkat oleh pemimpin negara dan pertanggung-jawabannya di kembalikan ke pihak yang mengangkat; dalam hal ini Presiden dalam konteks negara modern dan Khalifah dalam konteks ke-Khilafahan. Dalam kasus Yusril, ia di sangkakan melakukan kesalahan ketika menjadi menteri. Dengan memakai logika bahwa menteri adalah pembantu presiden, bisa juga presiden dikait-kaitkan dengan kebijakan yang diambil oleh menterinya. Logika yang lebih ekstrim dan jitu akan terlihat bila dianalogikan menteri sama dengan mua’win, yaitu bahwa mua’win diangkat Khalifah dengan akad wakalah (perwakilan tanggung-jawab). Dalam konteks ke-Khilafahan, mua’win adalah representasi Khalifah yang mengangkatnya. Jadi, bila mua’win melakukan kesalahan yang dihukum adalah Khalifah. Perjalanan kasus Yusril menarik bak sinetron. Awal-awal penetapan tersangka, Yusril bak kucing yang sedang dipukuli tuannya. Tak berdaya. Namun, nasibnya kemudian berubah secara mengejutkan ketika gugatannya ke MK (Mahkamah Konstitusi) dikabulkan sebagian. Ia mulai di atas angin. Publik pun semakin menyadari kapasitas keilmuan dan pemahaman mantan Presiden Partai Bulan Bintang ini. Hingga, beberapa jam lalu Yusril menyatakan bahwa kasusnya bisa menyeret RI-1.
Drama Politik Adanya celah kemungkinan pelibatan RI-1 dalam kasus hukum, menjadi perhatian banyak pihak. Musuh-musuh politik RI-1 akan memperhatikan kasus ini secara serius. Menarik diperhatikan apa yang akan mereka lakukan. Sasaran utamanya tentu terjaminnya kepentingan politik pihak mereka. Bila tujuan akhir mereka nantinya adalah melengserkan Presiden, maka pertarunganya akan sengit dan berbelit-belit. Dan bisa jadi hasil akhirnya akan sama seperti kasus Bank Century. Namun, entitas politik pendukung RI-1 dan partainya bukan anak kemarin sore. Golkar dan PDI-P adalah partai yang sekian puluh tahun menghuni peta perpolitikan negeri ini. Orang-orangnya pun – meski baru, adalah kader-kader yang dikitari politikus berpengalaman di era orba. Ini artinya, meski panah siap dilepaskan kepada RI-1 dan partainya saya kurang yakin dua partai tadi akan melepaskan panahnya. Mereka akan tetap hati-hati dan mencari pendapatan politik yang lebih besar daripada sekadar melengserkan RI-1. Sementara partai pendukung RI-1 mau tidak mau membangun benteng bagi RI-1 agar aman dari serangan. Partai pendukung RI-1 akan cenderung bisa dibaca manuvernya. Sementara partai-partai lawan politiknya akan lebih sulit dibaca manuvernya. Inilah ujian bagi partai biru dengan kadernya yang muda dan enerjik. Kita lihat drama apa yang akan terjadi. Atau hanya menjadi Century jilid 2.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons