Sabtu, 29 Agustus 2009

Mengapa Indonesia Memilih Demokrasi !

Mengapa Indonesia memilih Demokrasi (sebagai sistem berbangsa dan bernegara) ? Demokrasi tampaknya telah terlanjur dijadikan idola oleh banyak orang. Demokrasi terlanjur menjadi kata-kata yang semua orang menganggap dirinya telah memahami. Seperti kata "globalisasi" dahulu. Sekarang ia telah tenggelam oleh slogan-slogan lain.

Menurut saya, Indonesia memilih Demokrasi sebagai sistemnya karena diarahkan. Demokrasi barat - oleh Amerika - dibuat seolah-olah adalah tanaman di pekarangan kita sendiri. Maksudnya, demokrasi dibuat seolah-olah cocok dan berasal dari Indonesia (dan negara dunia ke 3 lainnya). Padahal sudah jelas worldview barat yang diawali pemikiran positivistik dan sekuler Yunani-lah yang melahirkannya. Demokrasi tidak punya akar sama sekali dengan karakter asli Indonesia apalagi Islam.Prof. T. M. Hasbi Ash-Shiddiqy misalnya, dalam bukunya Ilmu Kenegaraan menyatakan, Fiqh Islam mengkritik sistem demokrasi dalam berbagai seginya, dan merupakan kesalahan fatal menganggap Islam itu serupa dengan demokrasi.Pertama, demokrasi modern saat ini terlalu meletakkan faktor kebangsaan, geografis, dan ras sebagai pengikat antar manusia, atau dalam praktek menekankan citizenship. Tak jarang itu menimbulkan sikap fanatik bangsa. Dan itu jelas berbeda dengan Islam. Dalam pandangan Islam, aqidahlah tali pengikat utama antar muslim, di manapun ia berada, sebab Rasul diutus untuk semua manusia.
Kedua, tujuan demokrasi -baik kapitalis maupun sosialis- semata-mata bertumpu pada faktor materi. Keagungan bangsa, kemajuan ekonomi, peralatan pertahanan, menjadi tujuan utama dan satu-satunya. Itu jelas berbeda dengan Islam, di mana kebahagiaan dunia dan akhiratlah tujuan utamanya. Ibnu Khaldun (700H) pernah menulis: „Imamah itu adalah untuk mewujudkan kemaslahatan akhirat dan kemaslahatan dunia yang kembali kepada kemaslahatan akhirat. Sebab, segala kemaslahatan dunia dalam pandangan Islam harus diserasikan dengan kemaslahatan akhirat“.

Ketiga, demokrasi terlalu memberikan kekuasaan mutlak kepada rakyat. Rakyat berhak membuat undang-undang, apapun bentuknya. Asumsi demokrasi: suara rakyat itu pasti benar, lebih benar dari suara Tuhan, sebab salah satu fondasi demokrasi adalah sekularisasi (pemisahan persoalan rakyat dari persoalan agama). Padahal tak jarang, suara rakyat mayoritas bertentangan dengan prinsip kebenaran (seperti kasus UU anti minuman keras atau anti merokok di beberapa negara bagian USA, yang gagal dalam referendum).

REALITAS
Benarkah demokrasi pasti mencerminkan kehendak rakyat? Terlalu tergesa-gesa untuk membenarkannya. Faktanya, itu tidak mungkin terjadi. Sistem apapun di dunia ini tidak mungkin menciptakan rakyat sebagai pengatur, sebab praktek hukum adalah kegiatan pengambilan keputusan, yang dengan sendirinya bersifat individual, tidak mungkin kolektif, apalagi melibatkan semua rakyat. Barangkali peran rakyat tak lebih sekedar mengemukakan pendapat, itupun jika diperlukan, dalam hal yang menyangkut sebagian dari mereka.
Di Athena kuno, kota kelahiran demokrasi, tidak seluruh rakyat memerintah. Yang punya hak menganjurkan undang-undang hanyalah sekitar 20 tokoh, sementara rakyat hanya mampu menyuarakan setuju atau tidak - ini pun tidak semua rakyat, karena budak, wanita dan orang asing tidak punya hak suara.

POLITICS POCKET DICTIONARY O

O

OAU :
abbr of Organization of African Unity
OECD :
abbr of Organization for Economic Cooperation and Development
Oligarchy :
1. a form of government in which a small group of people hold all the power
2. a political system that is controlled by a small group of individuals, who govern in their own interests
Oligopoly :
control of goods or services in a given market by a small number of companies.
Ombudsman :
A public official who is appointed to investigate complaints by individuals about the activities of government agencies.
Omnibus Bill :
From the Latin meaning "for all," an omnibus legislative bill contains many miscellaneous provisions
Open Society :
A society, such as the U.S. and most European countries, in which individuals have freedom of movement and there are no restrictions on travel to and from other countries; public buildings and officials are relatively accessible, secrecy is at a minimum and there is a free flow of information
Opportunism :
The practice of adapting one's actions to gain (in politics) any short-term personal advantage that may be available, but without regard for principle or long-term consequences.
Opposition :
The party or parties in a legislative body that are against the party or parties that control the legislature
Oppression :
Severity, especially when practiced by a government that puts too heavy burden upon its citizens, in terms of taxes or unjust laws.


A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

POLITICS POCKET DICTIONARY A

A


Absolute :

1. having power without limit or restriction 2. existing independently and not in relation with somebody else
Absolutism :
(politics) the principle that those responsible for government should have power without limit or restriction
Activism :
the policy of vigorous action to bring about political change
Ageism :
the practice of treating people unfairly because of
their age, especially because they are considered to old
Agnostic :
a person who is not sure whether or not God exists
Altruism :
concern for the needs and feeling of other people above one’s own
Anachronism :
1. a person, a custom or an idea regarded as old fashioned or no longer appropriate
2. the place of something in the wrong historical period
Anarchy :
1. the absence of government or control in society
2. disorder, confusion
Anarchism :
the political believe that there should be no laws or government
Anarchist :
a person who believes there should be no laws or government, or who favours political disorder
Anglo-Saxon :
1. a person whose ancestors ware English
2. an English person of the period before the Norman Conquest
3. (also old English) the English language before about 1150
Antagonism :
(toward somebody or something) a feeling of hostility or opposition
Anthropomorphic :
treating gods or animal as human in form and personality
Anthropomorphism :
believe that gods or animal is as human in form and personality
Agitation :
in a political sense, refers to keeping an issue or a debate constantly before the public; as in there was considerable agitation for political reform in China in the late 1980s. Usually used to refer to opposition to the status quo (in communist countries, those who campaigned for human rights would often be referred to as agitators by the government.)

Aristocracy :
the highest social class; people of noble birth.

Atheism :
the believe that God does not exist


A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z

Profil Kehidupan Nicolo Machiavelli: Pangeran Kekuasaan

Nicolo Machiavelli bisa disebut sebagai “The Child of Renaisans” (anak zaman Renaisans). Ia dilahirkan di Italia, tepatnya di kota Florence pada tahun 1467. Ayah Machiavelli adalah seorang ahli hokum bernama Bernardo Machiavelli. Bernardo adalah seorang pengagum sejarah masa-masa klasik Yunani dan Romawi. Tak heran Bernardo akrab dengan karya-karya klasik Cicero seperti Phillipus, On Moral Obligation dan The Making of an Orator, serta membaca History karya Livius. Di kemudian hari karya Livius ini menjadi kerangka dasar pemikiran dan argumentasi karya monumental Machiavelli, The Prince.
Pada umur 6 tahun Machiavelli telah mulai belajar bahasa latin. Machiavelli pada umur 12 tahun, belajar ilmu-ilmu kemanusian kepada Paulo Ronsiglione. Di bawah bimbingan Ronsiglione inilah pada umur 14 tahun Machiavelli sudah mampu menulis karangan dalam bahasa latin menggunakan metode humanis standar meniru gaya-gaya penulisan klasik.
Menjelang dewasa Machiavelli kuliah di Universitas Florence. Di sana ia mempelajari karya-karya klasik kepada Marcelo Adriani. Di kemudian hari hubungan baik antara Machiavelli, ayahnya dan Adriani menjadi factor penting naiknya Machiavelli memangku jabatan sekretaris di negaranya.
Pada usia 25 tahun Machiavelli menjadi saksi hidup perjuangan seorang politikus moralis, Girolamo Savonarola. Sosok Savonarola dipandang sebagai sosok yang alim, memiliki reputasi dan otoritas cemerlang serta menguasai berbagai disiplin ilmu, khususnya filsafat. Sosoknya yang kharismatis memukau Machiavelli muda. Sayang, ketegaran dan fanatisme politik Savonarola mengahadapi penguasa tiran Italia menemui kegagalan. Dan Machiavelli menjadi saksi hidup peristiwa itu. Termasuk peristiwa penangkapan, penyiksaan dan eksekusi - dengan dibakar inkuisisi gereja atas perintah Paus Alexander VI atas tuduhan hendak mendirikan Negara teokratik demokratik mengkritik kehidupan mewah dan korup Cosimo de Medici serta dianggap menyebarkan ajaran sesat. Peristiwa ini mempengaruhi Machiavelli dan menyadarkannya bahwa mereka yang bersenjata akan dapat menaklukan mereka yang tidak bersenjata.

Jumat, 28 Agustus 2009

Teori Teroris

Peristiwa tanggal 13 Juli kemarin amat mengagetkan semua orang. Bom meledak pagi-pagi. Saat semua orang asik dengan aktivitasnya. Ada yang sarapan, ada yang olahraga, ada yang jogging ada yang sedang sibuk siap-siap ke kantor atau ada pula yang sedang buru-buru pergi ke kantor. Dan begitu meledak, semua aktivitas tersebut berhenti. Semua orang kaget. Sebagian besar orang geram dan kesal. Maksud saya, amat sangat geram dan kesal.
Polri adalah pihak yang jenggotnya paling banyak terbakar. Mereka pihak yang paling gusar. Bertambah gusar lagi setelah pengepungan belasan jam di Temanggung yang diharapkan menangkap Noordin ternyata meleset. Tayangan live berjam-jam – konon salah satu TV swasta dapat spot pengamatan istimewa karena ada deal bisnis dengan yang berwenang – ternyata “hanya” menayangkan penangkapan kaki tangan Noordin.
Setelah peristiwa tersebut, media terbiasa menyebut istilah “jihad”, “dakwah”, “pengajian” dan sejenisnya. Disinyalir para teroris, beroperasi di sekitar aktivitas-aktivitas –dalam tanda kutip- tadi. Bagi saya itu bagus. Masyarakat umum, terutama muslim, sudah terlalu lama berjauhan dengan istilah-istilah itu. Dan saat ini masyarakat mulai mencoba mengenalnya kembali, term-term yang dahulu telah amat dekat dengan kehidupan mereka.


Mengawasi Dakwah Ulama
Setelah term-term Islam dibahas dengan intens di media, sepertinya semua orang sudah seopini dan sepemahaman. Masyarakat, media dan polisi sudah paham bagaimana seharusnya para dai berdakwah. Masyarakat, media dan polisi juga sudah tahu bagaimana seharusnya term “jihad” dijelaskan oleh para dai. Tak heran muncullah keinginan untuk mengawasi dan membatasi cara dai berdakwah. Atau dengan bahasa Wakadivhumas Polri (SCTV, “Barometer” 260809), “perlu ada sosialisasi” mengenai dakwah yang damai dan penjelasan makna jihad secar benar.
Bila Polisi benar-benar mengawasi para dai – seperti di Spanyol dan Amerika – di bulan Ramadhan, Polisi benar-benar over acting, kata Umar Abduh (pengamat terorisme). Ketua Umum – dalam acara tersebut - pun tak setuju dengan pengawasan yang akan dilakukan Polisi tersebut.
Bagi saya, pengawasan oleh polisi ataupun sosialisasi oleh Depag – seperti diungkap Wakadivhumas – intinya sama. Poin pentingnya bukan salah para dai yang selama ini telah berdakwah secara salah. Bukan juga salah dai yang selama ini telah menerangkan makna jihad secara tidak benar – walaupun menurut pengalaman saya amat jarang para dai menyinggung masalah jihad secara sekilas atau mendalam. Polisi telah benar mencari para penjahat dan mereka yang merusak ketentraman masyarakat. Para dai telah benar menyampaikan nasihat-nasihat agama. Hanya setiap kita yang tak pernah mau belajar agama dengan benar. Term-term jihad telah lama kita lupakan dan tak terpahami, karena kita tidur saat Jumatan. Selama ini kita betul-betul merasa butuh pengetahuan agama hanya ketika akan zakat, nikah atau cerai. Jadi, masihkah kita menyalahkan para remaja-remaja yang memahami jihad secara salah ?
Cara Menangkap Noordin
Saya jadi ingat beberapa serial kriminal barat di TV. Para detektif secara ajaib bisa menemukan persembunyian penjahat setelah berdiskusi lima atau tujuh menit. Apa yang mereka diskusikan ? Mereka mendiskusikan apa yang dipikirkan penjahat pada kondisi saat itu. Intinya, para dektektif berusaha berpikir dan ber-keaadaan-psikologi seperti penjahat. Mungkin itu yang harus dilakukan Polisi.
Sayang, Noordin pun pasti berpikiran seperti itu. Lima tahun dalam pelarian dan hampir tertangkap beberapa kali pasti memberinya banyak “ilmu”. Dia mestinya telah paham akan apa yang akan dilakukan Polri. Sehingga Noordin tinggal berpikir secara berkebalikan dengan apa yang dipikir, direncanakan, dilakukan oleh Polisi agar bisa terus berlari. Gampang Toh ?
Tinggal Polisi dan BIN yang harus berpikir mbulet-mbulet. Apa yang akan dilakukan dan dipikirkan Noordin bila dia telah tahu rencana dan cara berpikir Polisi sementara dia sendiri belum tahu Polisi sudah tahu bagaimana cara berpikir Noordin? Bingung ga. Begitulah pusingnya Polri dan BIN (btw, kalau Polri dan BIN masih bingung memecahkan pertanyaan seperti diatas berarti mereka kalah dari FBI yang telah memecahkan kondisi tersebut pada tahun 1950-an. hebatnya lagi formula pemecahannya secara matematis. Di posting berikutnya akan saya bahas).
Tenang saja pak polisi, “sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh kalau ditembak”.
*****
Kutunggu kau kutunggu, kunanti kau kunanti
Walau sampai akhir hayat ini
(footer:lagu “kunanti oleh punkrockjalanan, lagu amat populer namun lahir dan besar di jalanan)
(mungkin begitu nyanyian Polri saat ini)

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons