Jumat, 01 November 2013

Yours Forever

Hak yang paling asasi konon hak asasi manusia. Amerika sejak 1700an telah menjamin hak itu lewat The Declaration of Independence. Salah satu perumusnya adalah Thomas Jefferson. Kalau di Indonesia, Thomas Jefferson itu Soekarno. Dalam deklarasi itu negara menjamin hak untuk hidup, hak berpendapat dan hak memperjuangkan hidupnya (bebas bekerja dan memiliki sesuatu). Kalau ada yang salah dari hak-hak itu tolong dikoreksi. Maklum, terakhir baca sejarah Amerika waktu SMA.
thomas jefferson,politik indonesia,pks,golkar,hanura,amerika indonesia,politik internasional,pahlawan amerika,usa,hero,national hero
Mungkin inilah perbedaan paling mendasar antara manusia dan binatang. Manusia memiliki free-will (kebebasan memilih) karena punya konsep ego (ke-akuan). Sedangkan binatang hanya memiliki naluri. Dia tidak sadar ke-akuan-nya. Bagi binatang; lapar ya makan, ada lawan ditantang, diserang ya bertahan, kalah bertarung ya minggir. Dia tidak punya ego yang membuat ia merasa malu bila kalah. Dia tidak punya ego yang membuat ia punya cita-cita. Ia tidak punya konsep dendam atau manipulasi terhadap keadaan. Bagi binatang kalah ya kalah. Lihatlah capung yang nabrak-nabrak kaca. Sampai kiamat ia akan terus berusaha melewati kaca itu seolah-olah kaca itu tidak ada. Sedangkan manusia, setiap hambatan bisa ia akali. Bahkan aturan pun bisa ia manipulasi untuk kepentingannya sendiri.
Misteri paling gelap dalam kehidupan manusia adalah free-will. Anugrah terbesar manusia dari Tuhan adalah free-will. Dalam bahasa Al Qur’an –mungkin– free-will adalah amanah. Semua makhluk Tuhan ditawari free-will (amanah) tapi mereka semua menolak. Hanya manusia –yang dengan congkaknya- menerima amanah itu.
Mata, hati, kaki, inspirasi dan ilham. Semuanya dari Tuhan. Lalu darimanakah free-will itu? Mungkin itu adalah sedikit dari sifat Allah yang dipinjamkan kepada manusia. Allah bebas berkehendak (dalam asmaul husna ada. Cek aja sendiri). Suatu saat free-will itu akan diambil dan dimintai pertanggung-jawaban.
Yang aneh adalah ada beberapa orang yang memilih untuk tidak memakai free-will-nya. Mereka punya keinginan, namun menyerahkan semuanya pada entah apa. Ada yang menyerahkannya kepada teman, orang tua, proses sosial atau apa pun itu asal bukan dirinya sendiri (baca:ego). Siapakah kalian yang tidak membutuhkan kebebasan? Siapakah kalian yang nyaman dalam penjara? Siapakah kalian yang merasakan kebebasan dalam keterikatan? Siapakah kalian yang merasakan keterikatan dalam kebebasan? Apa sebenarnya yang mengikat kalian? Apa sebenarnya yang membebaskan kalian?
Apa pun itu. Kebebasan adalah milik manusia. Selamanya.
Here some wings,
There yours forever,
And heres some dreams,
That will come true,
Take these tears, to wash away your sorrows,
Tomorrow still holds out its hands to you,
Yes tomorrow still holds out its hands to you
Yes tomorrow still holds out its hands to you

“John Mellencamp – Yours Forever” OST Perfect Storm
Monday, April 08, 2013

Sabtu, 26 Oktober 2013

Display

Tadi malam jalan-jalan ke halaman sosial media beberapa kawan. Saya terkaget-kaget melihat “tembok” seorang kawan terpampang gambar wajahnya secara demonstratif, clear dan fokus. Sebelum itu, “tembok”nya hanya berisi gambar-gambar karakter kartun idolanya.
Ada apa ini?  Hal biasa? Mungkin saya saja yang berpikir terlalu jauh.
Facebook dan twitter adalah keniscayaan zaman. Roda zaman yang tak ada rem-nya. Siapa pun mungkin telah teramat sulit untuk membendungnya. Kecuali anda presiden, maka anda bisa mem-blok media-media sosial itu dari negeri ini, sebagaimana yang terjadi di Cina.
Dua dekade yang lalu tak terbayangkan ada media semacam ini. Ngobrol lewat telepon saja – waktu itu – sudah merupakan gaya hidup yang wah. Keasyikan dan kenikmatan berkumpul dan bersenda-gurau dengan kawan berada di lapangan, surau, permainan-permainan tradisional selepas maghrib dan kenakalan-kenakalan kecil – mencuri jambu atau kelapa di kebun. Semua itu menjanjikan pengalaman mental yang lebih kaya. Keintiman dengan lingkungan yang tak lekang oleh waktu. Kekayaan petualangan yang lebih kaya daripada buku cerita seorang penyihir cilik sekalipun. Koneksi persahabatan yang luas, yang akan sulit terjadi pada anak-anak sekarang untuk bersosialisasi sedemikian luas. Karena untuk pergi ke luar rumah saja mereka butuh motor. Kalau tidak ada motor atau mobil yang bisa dipakai mereka tidak mau pergi.
Tapi itu masa lalu, saudara-saudara. Sekarang, kalau anda tidak punya akun FB, twitter, smartphone, tidak pernah punya pengalaman makan di tempat keren di kota anda, maka anda bukan siapa-siapa. Anda adalah orang pinggiran. Anda adalah penonton diantara para pemain. Anda kehilangan akses informasi yang terhangat. Anda terlibas oleh gosip terkini yang dibicarakan semua orang. Anda akan tidak nyambung dengan obrolan teman sebelah anda. Lambat laun anda akan merasa di negeri antah berantah meskipun ada tidak bepergian ke luar negeri. Teknologi, media sosial, gaya hidup dan keterbukaan informasi adalah “bola salju” yang mau tak mau kita harus ikut masuk ke dalam gulungannya, meski kita tak tahu akan menuju kemana ia.
Media sosial adalah “ibu kandung” dari berbagai fenomena masa kini. Dari bahasa gaul hingga gerakan solidaritas sosial dan politik. Maka, berbondong-bondonglah semua orang ingin punya akun FB atau twitter. Kalau anda tidak punya maka anda ga gaoool. Presiden pun akhirnya punya akun.  Biarpun presiden, dia juga harus gaul juga, saudara-saudara.
Kembali ke masalah “display”. Kalau wajah adalah “display” identitas kita. Maka halaman sosial media adalah display identitas baru kita. Asyiknya, kita bisa menghiasi dan memanipulasi display yang ingin kita suguhkan. Dan – dengan gembira saya umumkan – display kita sekarang adalah foto-foto di akun FB atau twitter dan status-status yang kita bikin. Identitas dan ke-diri-an kita adalah sebuah file JPG atau kumpulan huruf-huruf yang sengaja dibikin inspiratif, lucu atau galau.
Positif atau negatifnya dari “arus zaman” ini, bagi saya tidak relevan. Toh ia sudah duduk di ruang tamu. Ia benar-benar telah berada di dalam rumah, jadi bukan sekadar baru mengetuk pintu. Saya pun tidak punya kemampuan membendung arus ini. Meskipun ia menggulung kenangan-kenangan masa lalu yang adiluhung, syahdu dan juga kuno toh ia harus kita sambut dengan tangan terbuka. Dan saya yakin anda adalah pengendali arus baru itu. Anda akan menemukan nilai-nilai baru yang lebih adiluhung, modern, keren dan progresif di dalam arus baru ini. Tidak akan ada value yang childish, sekadar lips-service atau pencitraan semata. Kalau pun tidak, saya yakin “arus baru” ini memperkaya apa yang sudah anda miliki.
Bukan begitu, saudara-saudara?
Jadi, bila ada gambar-gambar demonstratif di media-media sosial jangan anda kaget. Itu biasa. Gambar-gambar itu diperlukan sebagai identitas. Memang betul di situ sudah ada nama. Namun, nama saja tidak cukup. Sama seperti jaringan ayam goreng cepat saji. Nama dan papan iklan tidak cukup. Kaca gerai harus tembus pandang, agar menjadi “display” yang menarik, “ditonton orang” dan yang ditonton juga merasa nyaman ditonton.
Jadi, ketika paha ayam goreng itu kita kunyah bunyinya bukan “kriuk kriuk kriuk..!” tapi “status status status..!”
May 17, 2013

Rabu, 12 Desember 2012

kanvas

Sembilan puluh sembilan tahun yang lalu, di kota Arles yang sunyi, ia memotong kupingnya untuk dihadiahkan kepada seorang pelacur. Dua tahun kemudian, ia menombak perutnya sendiri, di dekat seonggok rabuk tahi sapi di sebuah ladang di kota Auvers. Tiga puluh enam jam setelah itu Vincent van Gogh mati.

Ia mati tak punya apa-apa dalam usia 37, tapi di tahun 1987 ini, hampir seabad kemudian, sebuah lukisannya dilelang dan dibeli oleh perusahaan asuransi Yasuda di Tokyo dengan Rp 65 milyar. Itu kurang lebih sama seperti harga 500 buah mobil Mercedez Benz. Majalah Eksekutif pun menyebut lelang lukisan Bunga Matahari karya Van Gogh di London sebagai ”lelang terbesar abad ini”. Riwayat Van Gogh memang penuh kejadian yang layak untuk sebuah biografi hebat, dan tak aneh bila 30 tahun yang lalu Kirk Douglas memainkannya (dengan sejumlah bumbu Holywood) dalam Lust for Life. Tapi apa yang luar biasa? Orang telah terbiasa dengan cerita anekdotis tentang seniman yang hidup gila-gilaan dan aneh dan berantakan: kita sudah menonton Amadeus atau mendengar tentang Chairil Anwar yang makan sate mentah dan mati muda.

Seniman, agaknya, telah menjadi semacam keistimewaan – punya semacam privilese untuk tak dinilai dengan ukuran orang biasa. Saya tak tahu persis darimana dan sejak kapan semua itu berasal. Kakek nenek kita di kampung dulu rasanya tak pernah mengenal seniman sebagai kategori tersendiri. Buku Umar Khayam yang menarik, Semangat Indonesia, satu rekaman selintas tentang kehidupan kesenian rakyta di Indonesia, menunjukan bagaimana orang membuat seni (di Nias, di Bali, di pedalaman Irian) bukan hanya untuk ”keindahan” melainkan bagian dari alat kerja dan upacara – tanpa tepuk tangan.

Tapi mengapa Bunga Matahari Van Gogh ternyata dibeli orang dengan Rp 65 milyar? Kenapa orang tak datang saja ke museum Van Gogh di Amsterdam, yang necis dan penuh cahaya di musim panas, atau membeli reproduksinya – cukup bagus – dengan harga tak sampai Rp 10 ribu?

Jawabnya, mungkin: ada manusia yang memang tak cuma kepengin benda-benda yang akhirnya bisa diraih oleh banyak orang, betapapun mahalnya. Ia juga menginginkan sesuatu yang oleh seorang ahli ekonomi disebut sebagai ”kekayaan olirgakis”, yakni hal-hal yang, saking langkanya akhirnya hanya bisa dimiliki oleh satu dua pribadi, walaupun orang lain mampu membelinya. Ironi Van Gogh ialah bahwa ia, yang bermula denga melukis petani miskin di Borinage, kemudian menjadi unsur dalam kekayaan olirgakis itu.

Tapi untunglah: keindahan tak cuma hadir dalam sebuah lukisan seharga sekian puluh milyar. Kita toh bisa melihat ada yang indah pada etalase toko Esprit di Singapura, stempel karet di kaki lima Malioboro, sampul kaset musik jazz Chandra Darusman – pada segala sesuatu yang sehari-hari, yang sementara, yang sepele. Bukankah di Bali juga keindahan didapat pada patung keramik yang besok mungkin pecah?

Memang – dan sejumlah seniman, dengan semangat besar, mengukuhkan itu, ketika mereka mengumumkan diri sebagai Gerakan Seni Rupa Baru, dan dalam sebuah pameran di Taman Ismail Marzuki yang menarik, memaparkan iklan dan stiker dan kalender dan kaus oblong dari sembarang pojok. Tak berarti ada sesuatu yang baru dalam pendirian mereka. Penulis kritik seni Bambang Budjono, misalnya, bisa menyebutkan bahwa di tahun 1938 sebuah pameran para ”ahli gambar” Indonesia, diikuti juga oleh pelukis poster bioskop – suatu bukti, agaknya bahwa, di Indonesia, sejak dulu, orang memang bisa berkesenian tanpa merasakannya sebagai suatu privilese. Orang bisa berkesenian dengan cara yang sangat ringan: sebagian dari hidup yang biasa dan tidak menakjubkan.

Keindahan, karena itu, memang bukan monopoli elite –terutama elite sosial, yang di Indonesia kini nampak masih gugup dan canggung mencari selera. Apa yang indah bagi ”orang sekolahan” tak bisa dipaksakan sebagai indah bagi orang pinggiran. Tapi dengan sikap toleran dan demokratis sekalipun tak berarti keindahan tak menyembunyikan hierarkisnya sendiri, apapun kriterianya: lukisan ”Gerilya” S. Soedjojono bagi saya lebih menggetarkan ketimbang lukisan ”Jaka Tarub” Basuki Abdullah. Iklan dalam majalah Interview Andy Warhol lebih memukau ketimbang iklan ribut pabrik kaset ”JK Records” dalam Tempo. Singkat kata, yang satu punya tingkat yang berbeda dibanding yang lain. Di sini, tak ada perlakuan yang sama. Di sini, apa yang disebut ahli sosiologi Daniel Bell sepuluh tahun yang lalu sebagai ”The democratization of genius” – lahir dari semangat ”kerakyatan” dalam kesenian barat yang meledak di tahun 1960-an – menjadi hal yang mustahil.

Sebab ”demokratisasi kejeniusan” berarti peniadaan kejeniusan itu sendiri. Sementara itu, kejeniusan adalah bagian yang tak bisa ditolak dalam proses ketika manusia menciptakan kebudayaan. Kejeniusan mendorong kita ke pintu yang lebih luas. Kejeniusan itu bernama Van Gogh, yang ingin melukis terus, intens, sampai gila, seraya bertanya, ”Buat apa?”

Mungkin ia tak tahu apa jawabnya. Tapi kita tahu apa yang diberikannya kepada kita, lewat kepedihannya. Dan itu bukan sebuah kanvas seharga Rp 65 milyar.

Goenawan Mohammad # 27 Juni 1987

Senin, 12 November 2012

bhargawa

Resi Bhargawa meletekkan tubuhnya yang kukuh di bawah pohon-pohon hutan yang memberat. Tidur.

Di dekatnya, dengan setia, Radheya menyediakan diri jadi bantal bagi gurunya. Ia memangku kepala yang besar dan perkasa dengan rambut panjang yang terjalin keras itu. Ia merasakan kebahagian yang dalam – bahagia seorang yang ingin mengabdi, ingin menghormati – karena tahu; yang ia jaga adalah ketentraman seorang yang selama ini membagikan kepadanya ilmu dan kepiawaian.

Dan Resi Bhargawa pun tertidur berjam-jam, dan Radheya duduk menyangganya berjam-jam, tak bergerak, membisu. Hanya hatinya tidak membisu. Hari itu menjelang hari terakhirnya berlatih dengan bagawan yang termasyhur itu.

”Terima kasih, guru, kau telah terima penghormatanku – telah kau terima diriku. Aku tak pernah melupakan hari itu, tujuh tahun yang lalu, ketika aku berbuat pertama kalinya mengetuk pintu asramamu dan kau bertanya, ”Siapakah engkau, anak muda?”

”Aku tahu, guru, tuan tak hanya menginginkan sebuah nama. Tuan menanyakan sebuah niat, dan sebuah riwayat – jalan panjang yang menyebabkan aku, seorang dari keluarga tak ternama, datang dan menyatakan akan belajar kepadamu. Aku bergetar, guru, engkau begitu dahsyat. Dan aku tahu aku tak akan pernah bisa menjawab.

”Sebab, aku hanya tahu cerita ini: Seorang remaja telah datang dari pedalaman. Ia dibesarkan oleh seorang sais kereta yang konon bukan ayahnya sendiri – sebab anak itu tumbuh dengan keingan lain yang tak pernah dikhayalkan orang tuanya. ”Engkau memang cuma anak pungut kami, buyung”, kata wanita yang selam ini menjadi ibunya dengan terisak-isak, ”mimpimu bukan mimpi kami.”

”Jadi, siapakah dia, guru? Yang ia tahu pasti ia diberi nama Radheya, dengan hasrat yang ganjil dan tinggi: menjadi seorang pemanah ulung, seperti yang didengarnya dari cerita Ibu, tentang perang dan para bangsawan. Lalu pada suatu hari ia datang ke guru termasyhur itu, Resi Durna. Tapi ditolak. Ia cuma anak seorang suta – bukan kelas yang berhak dengan ilmu peperangan.
”Maka, ia pun berdiri, Resi, di depan gerbang asramamu, dengan lutut menggeletar. Dan ia harus memberikan keterangan. Hari itu kurasakan, dalam pertanyaan pertamamu, ujung pisau yang meraba sarafku. Tapi akhirnya engkau menerimaku. Tak ada riwayat yang lebih bersinar-sinar dalam diriku, selain menjadi muridmu, menerima ilmumu, menerima kepercayaanmu . . . .

”Meskipun aku telah menjustaimu. Hari itu kukatakan kepadamu, ”Hamba anak seorang brahmana jauh di pedalaman Hastina’, dan kau percaya. Kau berikan ilmu kepadaku dengan kepercayaan itu. Kau jadikan aku murid utamamu sampai tuntas, tanpa kau tahu kebohonganku.

”Maafkan, aku, guru. Aku bukan anak Brahamana. Aku tak tahu aku anak siapa – jika benar aku hanya anak pungut seorang suta. Toh aku tak bisa mengaku berasal dari kalangan ksatria yang kau benci itu – orang-orang yang kau anggap sesat, orang-orang yang membakari hutan pertapaan lalu membangun kerajaan di atas mayat dan ketakutan. Aku bukan anak musuhmu, guru, meskipun aku tak datang dari kaummu. Aku adalah aku, Radheya, muridmu. . . . ”
Dan berjam-jam sang guru tertidur, dan berjam-jam sang murid mengabdi. Sampai menjelang senja, sesuatu terjadi. Seekor serangga ganas memagut paha anak muda itu. Darah menetes. Rasa sakit menguasai seluruh tubuhnya. Ia tak ingin menyebabkan gurunya – yang dikasihinya itu – terbangun. Kesakitan itu, baginya, adalah bagian dari tugasnya, dari baktinya.

Tapi darah menetes ke muka Bhargawa. Sang resi terbangun. Dilihatnya apa yang terjadi: muridnya, dengan wajah pucat menahan sakit, dan tubuhnya demam, tetap duduk seperti berjam-jam yang lalu, tak bergeming. Bhargawa pun meloncat bangun dan memegang bahu Radheya yang menggigil. ”Kau sakit, kau terkena racun. Apa yang terjadi?”

Radheya menceritakan apa yang terjadi. Dan Bhargawa mendengarnya dengan takjub – dan sesuatu tba-tiba tersirat dalam wajah anak ini, yang teguh, yang angkuh menahan kepedihan, yang seakan-akan mencemooh penderitaan yang bagi orang lain tak akan tertahankan. ”Wajah itu”, Bhargawa tiba-tiba menyimpulkan, seakan-akan sebuah mimpi buruk baru saja mengilhaminya. ”Sikap itu – keangkuhan itu – ”. Ia kenal. Anak muda yang dihadapinya ini mengingatkannya kepada wajah para ksatria, musuhnya, yang pernah roboh ia kalahkan, tapi tak menyerah.

Tanpa berkata-kata, ia pun meninggalkan Radheya di bawah pohon itu. Murid itu pun pelan-pelan berjalan ke arah asrama, tanpa ia merasa sesuatu telah hilang dari gurunya. Malam itu Bhargawa memang yakin: kecurigaannya selama ini tentang Radheya memang terbukti. Anak itu, yang telah diberinya pelbagai ilmu oerang yang tinggi, berasal dari kalangan musuh. Mungkin ia mata-mata . . . .

Ketika pagi datang, sang guru mengusir sang murid. Ia kecewa dan ia mengutuk ketika anak itu mengaku selama ini ia menjustainya. Baginya justa adalah justa. Juga dari seorang yang belum bisa menjawab siapa dirinya.

Goenawan Mohammad # 11 April 1987

Jumat, 12 Oktober 2012

fan

Seorang wanita, dalam sebuah pertemuan, pernah diketahui mengeluarkan bau yang ganjil di antara parfumnya. Seperti bau tembakau apak. Kemudian wanita bangsawan dalam istana Weimar itu mati.

Ternyata, di lehernya terpasang sebuah kalung, dengan kotak kecil sebagai medalion. Orang pun membukanya. Isinya: betul, tembakau apak. Persisnya sekerat puntung.

Adapun puntung itu berasal dari cerutu yang pernah diisap oleh Komponis Franz Liszt di sebuah jamuan makan 30 tahun sebelumnya. Si wanita bangsawan rupanya kepingin mendapatkan satu tanda mata dari musikus romantis yang termasyhur itu, yang agaknya diimpikan setiap hari, sampai mati, Mein Liebestraum . . . .

Kita boleh percaya boleh tidak kepada cerita dalam kenang-kenangan Ford Madox Ford itu, tapi satu hal memang masuk akal: pelbagi tingkah aneh, lucu, mengharukan, mengganggu, atau berbahaya bisa dilakukan sejumlah manusia yang begitu getol memuja satu tokoh atau sesuatu yang bukan tokoh dalam hidup mereka. Fan,menurut The New Oxford Illustrated Dictionary, merupakan singkatan dari kata ”fanatik”. Dan Napoleon (yang punya sejumlah besar fan) rupanya tahu benar perkara itu ketika mengatakan, ”Tak ada tempat di kepala seorang fanatik yang bisa dimasuki pikiran sehat”.

Sehat? Tidak Sehat?

Seorang pengagum, seorang pemuja, di dalam dirinya menyimpan sesuatu yangbisa disebut sebagai kesedian ”berkorban”. Dan pengorbanan diri tak selamanya dianggap sakit”.
Pemuja Liszt itu berkorban dengan bersedia menerima bau tembakau apak. Seorang gadis Inggris di Benfleet, di tengah kegandrungan Piala Dunia 1986, menunjukkan kesedian yang tak kalah intens: ia membayar tiga poundsterling kepada seorang ahli hukum untuk mengubah nama. Semula: Janiece Harris. Kini: Jandiego Janiece Jennifer Dorothy Arsenal Maradona. Nama ”Arsenal” ia ambil dari klub favoritnya. Nama yang lain kita tahun darimana datangnya.

Pengorbanan seperti itu (kita bisa bayangkan bagaimana repotnya kini Janiece mengisi KTP) memang bukan bandingan kisah-kisah tindakan besar dalam skala Siti Masyitoh atau Santo Sebastian: orang-orang yang bersedia mati, dengan rasa sakit, untuk sesuatu yang lebih agung – atau lebih penting – ketimbang seorang musikus atau seorang jagoan bola. Tapi kasus serupa, meskipun dengan derajat yang berbeda-beda, selalu terdapat satu hal: hati yang bergelora. Dari sana ada passion.

Tak begitu pasti kenapa ada hal-hal yang tertentu dalam hidup ini bisa menyalakan gelora hati, terutama bila hal tertentu itu adalah sepak bola. ”Tak ada penjelasan yang tunggal kenapa 22 orang laki-laki bercelana pendek yang sibuk mengejar-ngejar sebuah bola bisa menyebabkan jutaan orang terkesima, sejak dari Patagonia sampai dengan Praha”, tulis wartawan Reuter tentang Piala Dunia di Meksiko itu, yang diikuti dimana-mana dan berhari-hari, bahkan, seperti halnya di Indonesia, pada pukul 01.00 pagi. Seorang makhluk E.T. yang dari pesawatnya di ruang angkasa meneropong ke bumi 30 Juni yang lalu, ketika pertandingan final berlangsung, mungkin akan menyangka makhluk numi sedang kena sihir primitif yang mahakuat – yang memancar dari sebuah benda bulat kecil nun jauh di tengah lapangan di sebuah kota di benua Amerika.

Memang ada semacam sihir dalam tiap passion. Mungkin karena itulah di tahun 1970 orang-orang El Salvador dan Honduras saling panas, setelah sebuah pertandingan besar, dan perang meletus antara kedua negara itu. Mungkin itu pula sebabnya di Belgia, di Stadion Heysel di tahun 1985, 40 orang mati karena bentrokan.

Apa pun sebabnya, passion seperti itu – yang merundung jutaan manusia dengan bermacam-macam tingkat IQ – bisa disimpulkan sebagai ciri sebuah masa yang telah menjebol aristokrasi. Kini para fan tidak terbatas hany pada satu dua wanita bangsawan yang ingin menyimpan momento seorang musikus kelas atas. Bob Geldof maupun musuhnya, para pembajak kaset rekaman, tahu benar hal itu. Kini orang banyak – yang dengan tepat disebut ”orang kebanyakan” – telah memperdengarkan selera mereka, atau dengan kata lain, diri mereka. Dari situlah kata ”laris” menjadi memikat.

Bahkan perang juga perlu laris: perang tak lagi semata-mata hanya sport para raja dan tentara profesional. Kekalahan Austria yang sangat cepat di tahun 1866 adalah, setidaknya menurut sebagian ahli sejarah, karena wangsa Hapsburg tak bisa melihat bahwa kekuatan bisa datang dari gelora hati orang banyak – yang telah melahirkan nasionalisme (dan juga demokrasi). Dengan kata lain: keterlibatan massal. Lawannya, Prusia, sebaliknya: Bismarck bukan Cuma berhasil menyatukan Jerman, tapi ia juga berhasil membuat negara dan masyarakat sipil jadi satu keterpaduan yang bergelora. Maka, ia pun menang, dan wangsa Hapsburg runtuh.

Beberapa tahun sebelumnya, ketika berbicara tentang sejarah, Hegel memang sudah menulis: ”Tak ada hal besar di dunia telah tercapai tanpa passion.” Teknik, perencanaan, ketertiban memang menjanjikan hasil yang diperhitungkan, tapi jika ada pelajaran yang bisa ditarik dari pertandingan besar sepak bola, maka itu adalah satu hal: tanpa orang banyak, tanpa fan, yang gandrung dan tergila-gila, permainan di sana itu akan segera kehilangan makna.

Goenawan Mohammad # 5 Juli 1986

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons