Sabtu, 12 Mei 2012

hwang

”Saya tak tertarik jadi pahlawan,” kata dokter itu.

Mungkin tidak. Tapi pada suatu malam Korea yang dingin di bulan Januari 1987, dokter itu, Hwang Juck-Joon, menyaksikan sesuatu yang harus disaksikan dan menemukan sesuatu yang kemudian akan mencelakakannya. Polisi memanggilnya. Ia diminta memeriksa jasad seorang mahasiswa berumur 21 tahun. Anak muda itu mati ketika sedang dalam pemeriksaan polisi.

Hwang Juck-Joon – ia salah satu dari sedikit ahli patologi di Korea Selatan – memang waktu itu bekerja di Lembaga Nasional Penyelidikan Ilmiah, di bawah Kementerian Dalam Negeri. Dalam posisinya di situ, ia secara rutin diminta oleh pihak kepolisian untuk membantu mereka dalam menjejaki kejahatan.

Ketika malam itu ia harus memeriksa tubuh mahasiswa yang mati itu, ia menemukan adanya pendarahan di dalam. Kesimpulannya: anak muda itu, Park Jong-Chul, seorang aktivis yang terlibat dalam pelbagai demonstrasi, mati karena siksaan.
Park, yang oleh interogator polisi sedang diusut ”hubungan-hubungan politiknya”, dengan jelas tewas tercekik. Yang rupanya mengherankan dr. Hwang ialah apa yang diumumkan oleh pihak berwewenang mengenai kematian Park Jong-Chul ternyata tidak sama dengan hasil penemuannya. Menurut pengumuman resmi, si mahasiswa ”mati karena syok.”.

Tapi ada yang tidak bisa ditidurkan dalam diri Hwang. Mungkin itu yang disebut nurani. Dokter yang berumur 40 tahun itu, yang umumnya bukan orang suka merecoki lembaganya, kemudian berbisik kepada seorang temannya, seorang wartawan, tentang apa sebenarnya yang ditemukannya di malam dingin Januari itu.

Dr. Hwang – menurut pengakuannya kemudian – tak menduga bahwa temannya, sang wartawan, akan memuat kesaksiannya. Ia mengira bahwa semua hal yang diungkapkannya tentang kematian Park Jong-Chul hanya akan dicatat sebagai rekaman historis.

Tetapi temannya rupanya berpendapat lain: sebab-musabab kematian Park yang sebenarnya harus dibongkar. Bagaimana pun pembunuhan telah terjadi. Kesewenang-wenangan yang penuh kekerasan telah dilakukan terhadap seorang yang tak berdaya. Apa yang menimpa dengan ngeri hari ini pada Park – jika dibiarkan begitu saja – pada suatu hari nanti akan bisa terjadi pada siapa saja, dan akan didiamkan juga seperti biasa.

Lalu tulisan itu pun terbit. Dan ketika hasil kesimpulan yang sebenarnya dari hasil otopsi akhirnya tersiar luas, masyarakat pun tahu: pihak yang berwewenang bukan saja telah membunuh warga negara. Mereka juga telah berdusta kepada khalayak ramai. Tak ayal – demikianlah tulisan Clyde Haberman dalam International Herald Tribune – suatu lingkungan protes pun terciptalah. Terutama dari kalangan menengah. Dari sini gelombang demonstrasi berkecamuk, melingkar-lingkar, tak putus-putusnya.

Untung, pemerintah Korea Selatan, di bawah Presiden Chun Doo-Hwan, bukanlah pemerintah batu. Suatu penyelidikan dilakukan untuk mengusut sebenarnya apa yang terjadi pada Park Jong-Chul. Di sini barangkali dr. Hwang juga dimintai keterangan. Akhirnya pemerintah pun mengakui: Park mati karena disiksa polisi. Selama anak muda ini diperiksa, kepalanya dimasukkan ke dalam bak air berkali-kali. Suatu ketika tenggorokannya terjepit ke tepi bak itu. Park tercekik, dan bagian dalam leher retak. Ia tewas.

Para pembunuhnya kemudian dihukum. Lima polisi yang menjalankan interogasi terhadap Park dipenjarakan antara 5 dan 15 tahun. Direktur jenderal yang memimpin markas besar kepolisian, Kang Min Chang, dijatuhi hukuman dengan masa percobaan karena menyuruh bawahannya menutupi-nutupi kasus ini.

Itu semua tak menyebabkan dr. Hwang dimaklumkan sebagai pemenang. ”Saya harus mengundurkan diri,” katanya. Ia telah menyebabkan para atasannya kehilangan muka, dan, menurut etik masyarakatnya, ia tak bisa terus bekerja di kantor itu. Juga ia takut. Tiap hari toh ia harus berhubungan dengan polisi, karena tugasnya. Dan Hwang merasa terancam. Ia sering menerima telepon yang menggertaknya, hingga ia harus berganti nomor telepon – dan berhenti bekerja. Ia kini menganggur.

”Saya tak tertarik jadi pahlawan,” katanya. ”Terus terang, mungkin saya ini orang yang dungu.”
Barangkali ia seorang yang dungu, dalam arti orang yang tak memikirkan akibtanya bagi nasib sendiri ketika ia harus mendengarkan hati nurani yang berdegup keras-keras. Tapi bersalahkah Hwang, jika ia jadi contoh yang rendah hati bahwa masih ada jiwa yang begitu mulya ditengah ketakutan ?

Dia mungkin bukan pahlawan. Pemerintah Chun yang mengoreksi dirinya sendiri dengan cepat juga bukan pahlawan. Tapi baik sang dokter maupun sang presiden – sengaja tak sengaja – telah mengangkat bangsa itu ke suatu taraf yang lebih tinggi. Hwang jadi penganggur dan pemerintah Chun akhirnya jatuh. Tapi kini siapa bisa mengatakan bangsa Korea bukan bangsa yang tangguh di hadapan kebenaran?

Goenawan Mohammad # 25 juni 1988

Senin, 23 April 2012

jassin

Kadang-kadang sebuah peruntungan ditentukan oleh sebuah kitab kecil. Setidak ada sebuah risalah yang pernah ikut berpengaruh dalam satu tahapan hidup saya.

Ketika saya berumur 18 tahun, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di Fakultas Psikologi, sebuah cabang baru dari Universitas Indonesia. Bukan saya bercita-cita menjadi seorang psikolog; waktu itu saya bahkan tak tahu jelas apa gerangan ”psikologi” itu. Saya memilih pendidikan tinggi itu karena di sana, saya dengar, diajarkan tiga hal: psikologi, filsafat dan sosiologi. Di fakultas lain tidak.

Dan itu semua gara-gara saya membaca, dengan agak terlampau tekun, sebuah buku tipis yang bernama Tifa Penyair dan Daerahnya, ditulis oleh H.B. Jassin lebih dari 30 tahun yang lalu. Koleksi tulisan itu, yang judulnya memang agak aneh, berisi pengantar hal-hal yang perlu diketahui jika anda ingin memasuki lapangan kesusasteraan. Salah satu ajaran H.B. Jassin di situ, kurang lebih, ialah: seorang sastrawan harus menguasai psikologi, filsafat dan sosiologi. Dan saya punya satu cita-cita rahasia: kepengin jadi sastrawan.

Mungkin masih merupakan perdebatan, benarkah seorang sastrawan harus sesiap itu untuk memulai kariernya. Tapi coba kita ikuti tulisan-tulisan H.B. Jassin. Dan kita saksikan bagaimana ia menjalani riwayat hidupnya. Pekan lalu, orang merayakan usia Jassin yang ke-70, dari banyak penjuru. Dikelilingi teman dan pengagum dan lawan-lawan pikirannya, berada di pusat dokumentasinya yang terkenal di Taman Ismail Marzuki itu, kita mendengar ia bicara, di kita pun jadi tahu: kesustraan adalah urusan yang serius, sangat serius.

Sejak hampir 50 tahun yang lalu sosok ini, yang pemalu dan sopan tapi sebenarnya penuh api, menulis tinjauan tentang karya-karya sastra, memperkenalkannya ke khalayak ramai, memberi tempat bagi novelis dan penyair baru, mengajar, menghimpun tiap carik tulisan atau dokumen yang dianggap penting tentang sastra dan sastrawan, mendengarkan pujian dan makian – bahkan ancaman – terhadap dirinya, semuanya untuk kesusastraan Indonesia modern. Penyair Taufik Ismail dengan tepat menyebut bahwa dalam usia ke 70 tahun itu, hidup H.B. Jassin bukan hidup yang panjang, tapi padat. Buat apa? Karena apa? Jawabnya: kesusastraan. Satu urusan yang serius.

Di dalam keseriusan itulah, seorang sastrawan menjadi sastrawan, bukan sekadar bekerja sebagai sastrawan. Awal Juni 1943, penyair Chairil Anwar berpidato di Angkatan Baru Pusat Kebudayaan di Jakarta. Ia menyebut seni cipta adalah ”soal hidup mati”. Berlebih-lebihan mungkin, tapi Chairil (sangat dikagumi Jassin) agak telah memulai suatu semangat, yang menegaskan bahwa kesusastraan – biarpun sepotong sajak – bukanlah sekadar ”wahyu” atau ”ilham”, dorongan mencipta yang datang tiba-tiba. Kesusastraan adalah hasil proses yang berjerih payah, dan tiap orang yang pernah menulis karya sastra tahu: ini bukan sekadar soal keterampilan teknik. Menulis, menghasilkan sebuah prosa atau puisi yang terbaik dari diri kita, adalah proses yang meminta pengerahan batin.

Dalam pengetahuan batin itu seorang seakan-akan menghadapi dirinya sendiri, seakan bercermin. Seorang penyair mungkin tak akan tahu apakah yang nanti ditulisnya jelek, tapi ia akan tahu apakah yang ditulisnya palsu. Ia tak bisa berbohong. Ia harus otentik.

Mungkin itu sebabnya Jassin menganggap bahwa kesusastraan adalah sebuah dunia, yang harus dipelihara dalam kemurniannya. Terkadang orang memang mencemooh, bahwa di luar bidang itu, ia tak tahu apa-apa. Mungkin. Tapi konsentrasinya di dalam urusan ini – yang serius ini – sebenarnya memberi isyarat bahwa di tengah kancah yang riuh rendah oleh banyak hal ini, harus ada sebuah tempat yang teduh, terjaga, leluasa. Kesusastraan adalah salah satu tempat itu.

Maka, ia pun menolak usaha memperpolitikkan penilaian sastra, seperti dilakukannya di tengah desakan PKI di tahun 1960-an, sehingga ia harus berhenti dari jabatan mengajar di Universitas Indonesia. Ia akan mengatakan – dengan tanpa banyak lika-liku – bahwa novel Mochtar Lubis tak bisa dinilai sebagai usaha subversif, begitu pula novel Pramoedya Ananta Toer. Ia akan mempertahankan bahwa keindahan, imajinasi, dan hasil pengarahan rohani seorang manusia (dan itu adalah sastra) tak akan bisa diberi cap secara gampangan. Itulah sebabnya, dengan penuh keberanian, ia menghadap meja hakim, dan dihukum, ketika sebuah cerita pendek di tahun 1969 dianggap ”menghina Tuhan”.

”H.B. Jassin. Di mana berakhirnya mata seorang penyair?” – kata sebaris sajak penyair Toto Sudarto Bachtiar di tahun 1955. Saya tak bagaimana jawaban Jassin. Saya duga ia akan senyum, membaca sebuah sajak atau cerita, memberi catatan, dan berjalan terus. Terus.

Goenawan Mohammad # 8 Agustus 1987

Kamis, 12 April 2012

babilon

Beli Koes Plus Golden Hits, Vol. 4 di Amazon

Ada sebuah nujum kuno, terekam dalam sebuah tulisan berbentuk baji. Para arkeolog menemukannya di sebidang sabak tanah liat, konon berasal dari Babilon. Isinya meramal dengan nada yang amat muram, ”Hari kiamat tengah mendekat.”

Kita tak tahu kapan hari akhir itu akan terjadi, tapi tanda-tandanya sudah tampak waktu itu juga, ”Anak-anak tak lagi mematuhi orang tua mereka, dan tiap-tiap orang ingin menulis buku . . .”

Mengapa begitu muram tampaknya prospek kehidupan bila anak-anak memberontak dan bila tiap orang ingin menyatakan pikirannya ke dalam tulisan? Kita tak tahu. Kita Cuma bisa menduga: si pembuat nubuat kuno itu mungkin seorang pendeta agung yang bertugas menjaga ketertiban iman dan kehidupan. Dalam posisi itu, ia menduga dewa akan murka bila manusia resah. Pada saat manusia ingin mengembangkan ide sendiri-sendiri, pada saat jiwanya bangkit, dunia pun akan ambruk, dan seluruh tata akan tergulung.

Kini kita tahu bahwa nujum Babilon itu tak terbukti. Kiamat tak terjadi meskipun anak-anak mengembangkan pikiran-pikiran yang tak dapat restu orang-tur mereka. Kehidupan tak berakhir dalam ledakan besar meskipun orang-orang ramai menulis buku. Ketidakpatuhan memang menjengkelkan. Tapi seandainya hanya kepatuhan yang berjalan di dalam sejarah manusia, kita tahu: tak akan ada negeri yang merdeka dan tak akan ada pemikiran baru yang menghasilkan hal-hal besar.

Namun, itulah mungkin yang tak bisa dimengerti oleh sang pendeta agung penjaga ketertiban dari Babilon. Baginya kebenaran telah diperoleh dan direkamnya di tangannya yang padu. Baginya garis sudah diletakkan dan itu jangan diungkit-ungkit.
Tapi ”manusia berpikir, Tuhan ketawa”, kata sebuah pepatah Yahudi. Novelis Milan Kundera, dalam sebuah pidato yang dibacakannya di musim semi di tahun 1985, yakin bahwa pepatah itu mengandung makna yang penting, karena baginya novel – buah kreativitas manusia – adalah sesuatu yang ditulis sebagai ”gema dari suara tawa Tuhan”.

Sebab, Tuhan yang Mahabijaksana tahu bahwa, betapapun pesat dan hebatnya manusia berpikir, pada akhirnya kebenaran yang ditangkapnya akan selalu luput. Pretensi besar untuk menganggap bahwa sang kebenaran telah ada di tangan, bahwa dari sini semua keputusan tak boleh diganggu gugat dan ditandingi, di dalam pandangan Tuhan mungkin sama dengan pretensi katak yang hendak jadi lembu. Ada yang menyedihkan dan sekaligus menggelikan di situ.
Tapi ada orang-orang kreatif (bagi Milan Kundera khususnya para penulis novel) yang bisa melihat situasi yang menyebabkan Tuhan ketawa seperti itu. Sebaliknya, ada para agelastes, mereka yang tak bisa geli, yang tak bisa ketawa.

Bagi Kundera, tak mungkin perdamaian terjadi antara kedua sisi itu: para pencipta dan para agelastes berada di front dan keduanya mencoba saling mengalahkan.
Sebab, para agelastes adalah mereka yang mengira – seperti sang penujum muram dari Babilon – bahwa dunia akan hancur bila orang menulis buku. ”Karena tak pernah mendengar suara tawa Tuhan,” kata Kundera, ”para agelastes yakin bahwa kebenaran itu jelas, bahwa semua orang niscaya berpikir sama, dan bahwa diri mereka sendiri adalah persis seperti yang mereka pikirkan.” Seorang novelie sebaliknya menciptakan ”sebuah wilayah dimana tak seorang pun memiliki kebenaran . . . tapi dimana setiap orang punya hak untuk dimengerti”.

Jika begitu besar perbedaan antara mereka yang pernah mendengar ”suara tawa Tuhan” dan yang tak pernah bisa ketawa, kata Kundera dengan nada sedih, dunia toleransi adalah dunia yang rapuh dan mudah lenyap. ”Di kaki langit sana berdiri bala tentara agelastes mengawasi setiap tindak kita,” kata Kundera, dan ia pun bercerita tentang sebuah perang yang tak dimaklumkan dan berlangsung tak habis-habisnya.

Kundera pastilah tahu apa yang dikatakanya: ia mengungkapkan itu semua dari dari lubuk pengalamannya sendiri. Ia terpaksa meninggalkan tanah airnya ketika pemerintahnya mengharuskan para penulis, atas nama sosialisme, patuh kepada petunjuk dari atas. Ia kini tinggal di Paris.

Yang menarik ialah bahwa tak seluruh nasibnya bisa dikatakan sebagai tragedi. Di dalam pembuangannya, Kundera mendapatkan mimbar yang lebih leluasa, tempat yang lebih tinggi. Dan mungkin itu adalah contoh bahwa apa pun yang dilakukan oleh para agelastes kepada seorang pengarang yang tak bisa patuh, tampaknya yang akan terdengar akhirnya adalah suara tertawa dari atas: kita seperti diingatkan akan kearifan Tuhan ketika ia melihat kekuasaan hambanya.

Kekuasaan itu – seperti hal pikiran manusia – terkadang tidak menyadari keterbatasannya untuk mengalahkan segala hal. Kekuasaan itu juga ibarat katak hendak jadi lembu: mau mengatur segalanya, menaklukan segalanya – juga menaklukkan keyakinan – tapi apa yang terjadi selalu? Para dewa yang murka dari nujum Babilon itu juga akhirnya tercatat di tanah liat.
Goenawan Mohammad # 18 Juni 1988

Jumat, 16 Maret 2012

Hukum VS Hukum

kpk,gedung kpk,ketua kpk,logo kpk
Judul yang aneh memang. Namun, akan saya awali tulisan ini dengan mengingat lagi tayangan ILC (Indonesian Lawyer Club) minggu ini. Tayang Selasa 13 Maret 2012. Acara ini diawali dengan tanya jawab Karni Ilyas (sang host) dengan Anwar Fuady (artis) yang pernah menyatakan diri siap jadi Presiden. Konon sang artis baru menyelesaikan pendidikan S2 hukum. Jadi, (iseng-iseng) Karni Ilyas ngetes keilmuan sang artis. Pendek kata saya langsung ganti channel lain karena sang artis gelagapan di tanya soal tingkatan hukum pidana di Indonesia (kalau ngga salah itu pertanyaannya). Ngga tahu kenapa saya yang jadi merasa malu, padahal rumah saya dan Jakarta terpisah ratusan km.


Saya ingin bertanya; mengapa harus ada hukum? Mengapa harus ada sekian ribu halaman UU dan aturan yang dapat mengakibatkan seseorang dipenjara karena melanggarnya?

Silahkan anda jawab. Tapi, tolong jangan jawab; karena ada banyak orang jahat. Atau untuk menjaga ketertiban. Sebab, tidak ada orang jahat kecuali setelah dituntut di muka pengadilan.

Pagi ini ada diskusi di TVOne tentang KPK yang konon sedang terpecah belah. Bony Hargen (seorang pengamat politik muda) dengan semangat mempertanyakan kesolidan KPK karena lima ketua KPK saling bertentangan dan bahkan sampai ada yang banting gelas. Inilah yang dipertanyakan Bony. Karena - menurut Bony - ini menunjukkan adanya ketidaksepakatan terhadap kebenaran. Artinya, ada komisioner KPK yang membela 'bandit-bandit' politik (istilah ini juga saya pinjam dari Bony).

Namun, menurut M. Yasin (mantan Ket. KPK) dan Nasrullah (pakar hukum) itu hal biasa. Pertentangan itu adalah hal biasa. Secara hukum pertentangan antar Ketua KPK tidak bernilai. Maksudnya, tidak ada kejahatan yang dilakukan kelima Ketua KPK. Karena menurut UU begitulah cara KPK mengambil keputusan. Meskipun dari masing-masing ketua punya pandangan terhadap suatu masalah, maka setelah satu keputusan diambil itulah yang benar. Benar dari sisi cara pengambilan keputusan dan dari sisi isi keputusan itu sendiri.

Itulah yang dipertanyakan Bony dan dipertahankan oleh M Yasin dan Nasrullah. Bony bertanya dan mengkritik secara sosial dan moral, sementara M Yasin dan Nasrullah mempertahankan membela secara hukum dan norma aturan yang ada, sebab hukum adalah untuk hukum.

Benarkan kalau membahas hukum harus selalu berdasarkan hukum? Dan haram dianalisis secara sosial, moral, budaya, psikologis atau sosiologis ?

Menurut saya, tidak bisa hukum dianalisis melulu pakai pisau analisis hukum. Johan Budi (jubir KPK) yang ikut dalam diskusi itu pun membela KPK dengan analisis sosial dan sosiologis. Ia mengatakan "tidak mungkin KPK tidak ada yang harus diperbaiki". Artinya, setiap lembaga pasti ada kesalahan satu atau dua. Ini 100% adalah komentar beradasarkan analisis sosial dann sosiologis. Secara hukum, pernyataan ini tidak ada artinya karena kesalahan harus setelah dibuktikan di pengadilan atau dengan jelas melanggar suatu aturan tertulis. Sehingga bila tidak ada yang ketahuan atau diproses hukum sama saja tidak ada pelanggaran hukum.

Inilah ke-tidak-konsistenan yang saya amati. Ketika mempertanyakan kritikan Bony, M Yasin, Nasrullah dan Johan Budi menyerang dasar analisis yang bersifat sosiologis, namun ketika berargumentasi ia tidak bisa murni 100% hukum positif semata.

Benang Merah
Manusia tidak memerlukan hukum. Karena manusia diciptakan bukan sebagai penjahat. Hukum muncul ketika kejahatan menjadi terorganisir. Ketika penjahat 1 atau 2 orang keputusan pemimpin itulah hukum. Darimana asal 'hukum' yang diputuskan sang pemimpin. Bisa dari nilai kelompok, pikiran pribadi pemimpin, adat dst. Dasarnya bisa banyak sekali. Artinya, hukum itu berasal dari kebijaksanaan manusia itu sendiri. Bila ada perbedaan antara manusia satu dengan yang lain, keputusan hukum tersebut diragukan kebenarannya.

Keputusan Kolegial
Sistem kolegial dibuat untuk mengawasi keputusan Ketua KPK. Padahal, pengawasan dan membuat keputusan adalah dua hal yang berbeda. Keputusan kolegial tidak lebih efektif dan efesien daripada keputusan oleh pemimpin tunggal. Logikanya sama dengan analogi bahwa "Tuhan tidak mungkin lebih dari Satu".

Senin, 12 Maret 2012

Khotbah

Khotbahnya keras. Dicercanya para wanita, yang mempertontokan kecantikan tubuh dan wajah. Dikecamnya para bankir, yang memungut ”riba” dari utang. Dihantamnya penguasa, yang ia sebut ”para tiran”. Mereka ini ”mencintai ”puji-pujian”, katanya, dan ”tak mendengarkan kaum yang melarat”.

Kota Firenze, menjelang akhir abad ke-15, bergetar oleh suara padri dominikan itu, Girolamo Savanarola.

Kota itu sendiri sebuah negeri yang paling sibuk dan berseri di Italia. Dari sinilah, kata ahli sejarah, zaman Renaissance bermula. Penduduk yang 100.000 jiwa itu memang dalam taraf ”maju”: seperempat dari jumlah itu bekerja sebagai buruh industri. Ada 200 pabrik tekstil di sana, dan seorang penulis sejarah mengatakan bahwa memasuki tahun 1300, Firenze sudah suatu contoh kapitalisme dengan investasi yang besar.

Untuk meluaskan pasar, misalnya, Firenze membuka perwakilan sampai ke Persia dan Tiongkok. Untuk membiayai usahanya seluas itu, sudah ada 80 bank. Pendapat pemerintahnya, di tahun 1400, lebih besar ketimbang pendapatan Inggris di masa gemilang Ratu Elizabeth I.
Tapi di Firenze itu, seperti halnya di mana pun, kekayaan itu mengandung cacatnya sendiri: tak semua berkesempatan menikmatinya. Di bawah lapisan bankir, pemilik pabrik, pedagang dan kaum profesional, yang bergabung di dalam 21 gilda, hidup mendekam kaum popolo minuto, orang-orang kecil. Mereka buruh yang bersatu dalam serikat kerja, tapi tak punya hak pilih, atau pekerja yang dilarang berserikat, dan sebab itu hidup dalam kemelaratan yang bisu.

Apa boleh buat. Kekuasaan, akhirnya, hanya jadi urusan yang kaya dan, karena itu, berpengaruh. Toh Firenze bernasib baik, ketika dari kalangan ini muncul sebuah dinasti: keluarga Medici.

Keluarga ini, sejak mereka memegang tampuk jabatan eksekutif, punya pandangan yang lebih luas ketimbang sekadar kepentingan sesaat. Kekuasaan medici berani mengenakan pajak yang lebih berat bagi si kaya, biarpun mereka sendiri terkena beban. Di bawah kepemimpinan Cosimo de’ Medici dan cucunya, Lorenzo, Kota Firenze mendapatkan satu hal lain: pengetahuan dan kesenian, yang dipupuk dengan dana yang dermawan.
Dari situlah pikiran bebas dan kegembiraan hidup menyeruak. Zaman Renaissance pun lahir, menggerakkan Firenze, menggerakan Italia, kemudian Eropa, ke seluruh jagat. Di Firenze kaum humanis tampil: para terpelajar yang mengagumi filsafat dan seni Yunani serta Latin sebelum Kristen – dan memandang ajaran agama dengan hati yang ringan. Sebab, bagi kaum humanis (dari kata umanisti), adanya filsafat dan sastra Yunani yang sedemikian tinggi adalah bukti: ternyata manusia bisa hidup dengan ikhtiar spiritual yang mengagumkan di luar Injil.

Toleransi tumbuh. Kitab suci bukan satu-satunya alternatif. Zaman itu adalah zaman bagi tokoh seperti Pico: seorang aristokrat tampan, juga seorang pemikir yang cerah, yang menelaah puisi dan arsitektur, menyukai pemikiran Yahudi dan Arab, yang mencoba mendekatkan Yudaisme, agama Kristen, dan Islam, dan menulis tentang Tuhan yang menciptakan Adam sebagai makhluk untuk menjalankan pilihan bebas.

Pembebasan itu, pada saat yang sama, juga pengenduran di sisi lain. Ketika doktrin agama tak lagi mencekam, ikatan akhlak yang ada juga tidak lagi mutlak. Moralitas melonggar – terutama ketika Firenze menikmati kemakmuran ekonomi di bawah kekuasaan Lorenzo de’ Medici. Negeri itu hidup dengan parade dan festival, dengan sajak yang satiris dan puisi yang erotis. Lorenzo sendiri, seorang penyair ulung, menulis nyanyian yang berseru: ”Panjang umur Dewa Anggur, hiduplah hasrat hati!”
Menghadapi semua itu hiduplah Savanarola dengan khotbahnya. Ia memang tokoh yang agak aneh buat zaman yang riang itu. Namun, zaman Renaissance, betapapun juga, sebuah masa peralihan : orang baru ”merdeka” dengan rasa bersalah dan ketidakpastian dalam hati. Savanarola memberikan kepastian. Ia juga membebaskan orang dari ketakutan berdosa. Ia menyerukan pertobatan: kembali ke kitab suci.

Orang pun mendengar. Dan ketika kekuasaan Medici suatu saat mengalami krisis, orang ramai bahkan mengangkat Savanarola ke pucuk kekuasaan. 500 tahun sebelum Iran, di Firenze, seorang rohaniawan memimpin sebuah republik yang angker: di sana bukan Cuma judi yang dilarang, tapi juga lagu-lagu tertentu. Di sana sejumlah pemuda jadi polisi susila, yang bisa merobek pakaian wanita yang mereka anggap tak sopan. Di sana seorang yang dituduh menghujat Tuhan bisa ditusuk lidahnya dan di sana Yesus Kristus dianggap sebagai Kepala Negara.

Sejarah kemudian mencatat bahwa republik yang alim itu hanya berlangsung sejak 1495 sampai 1498. Banyak faktor menyebabkan Savanarola – yang menentang Paus – akhirnya jatuh. Tapi satu hal jelas: setelah ia meninggal di api pembakaran, Firenze kembali melanjutkan eksperimennya dengan kebebasan. Hingga kini.

24 Oktober 1987

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons