Selasa, 20 April 2010

Political Ideas and Ideologies

Ideology:
  • As a system of ideas or beliefs that guide political action
  • As society defined ideation structures
  • Ideology implies a union of ideas and power
  • Ideas come from political thinkers most of who have not been active in politics but whose ideas influence political movements.
  • It involves the social construction of reality – highly abstract and often forcefully imposed.
According to Gramsci, ideology helps us understand how dominant groups keep subordinate groups under their rule without employing coercion.Antonio Gramsci is Italian borned intelectual. His view and thought have affected his era. He is also a radical politician.

Sabtu, 17 April 2010

Keamanan Negara

Seperti apakah pembagian "lapangan kerja" polisi dan militer ? Lalu dimana posisi satpol PP yang kemarin bikin heboh karena kalah adu fisik dengan anak-anak pengajian yang notabene tak pernah berlatih fisik dan baris-berbaris seperti mereka.Asumsi pertama yang harus dibangun dalam membahas keamanan negara adalah bahwa negara berbeda dengan pemerintah. Pemerintah atau pemerintahan adalah sosok yang tidak 'ajeg'. Artinya, pemerintah atau rezim bisa luruh dan tergantikan karena ia adalah entitas abstrak yang dipaksa memiliki batasan-batasan oleh undang-undang. Oleh karena itu - dalam konteks Indonesia- presiden tidak bisa menjabat lebih dari 2 kali. Sementara negara atau "nation" adalah wilayah dengan batasan-batasan yang terukur secara fisik. Penetapan batasan dalam undang-undang bukan karena batasan itu belum jelas terukur tetapi lebih karena tertib administrasi.

Aktifitas pengamanan kemudian menjadi domain negara sebagai sebuah "nation" yang berbatas luas jelas. Dimana ketentaraan lebih bersifat pengamanan batas-batas negara dan pengamanan dari serangan eksternal dan kepolisian berperan dalam pengamanan dan penindakan hukum dalam negeri. Meski begitu -sejarah telah mencatat- aktifitas pengamanan negara dan pengamanan rezim menjadi sesuatu yang sulit dibedakan.

Hermawan Sulistyo (2006) mengatakan, bial dikaitkan dengan konsep-konsep dan perspektif di atas, maka dirumuskanlah bidang-bidang tugas kepolisian ke dalam “pemeliharaan keamanan dan ketertiban” (order maintenance), “pencegahan kejahatan” (crime prevention), dan penegakan hukum (law enforcement). Domain gerak yang luas ini kadang tidak jernih pembedaannya. Sehingga, muncul banyak pertanyaan mengenai domain asli POLRI. Apakah keamanan ketertiban (order maintenance) ? Ataukah penegakan hukum dan pencegahan kejahatan (law and crime enforcement) ?

Ketika POLRI masih meraba-raba dimana posisi yang tepat, otonomi daerah muncul dan lahirlah kesatuan pengamanan daerah yang disebut Satpol PP. Bagi institusi Kepolisian yang berumur lebih tua dibanding Satapol-PP saja terus berupaya memperbaiki posisi dan "setelan"nya; apalagi Satpol-PP yang seumur jagung dan diisi oleh (harus diakui dengan besar hati) personel yang lolos dari saringan pendidikan dan profesionalitas yang rata-rata. Seharusnya ketidak jelasan posisi Satpol-PP sudah terbaca oleh para pemimpin di daerah. Atau mereka memang di buat tidak jelas agar sewaktu-waktu bisa dimanfaatkan untuk "apapun" demi kepentingan Pemda ?


_arni_

Kamis, 01 April 2010

Tentang Politik dan Media

Berita-berita hukum sedang menjadi 'anak emas' media-media belakangan ini. Kasus hukum seperti menjadi rantai yang terputuskan sejak munculnya ribut-ribut kematian Nasrudin hingga kasus pajak sekarang ini. Muncul pertanyaan adakah yang lebih menarik perhatian daripada itu semua ? Bisa jadi kalau ada bom lagi atau teroris yang mati jawabannya adalah "ya". Berita sebenarnya tak harus dicari. Berita sudah ada di sekitar manusia dari dulu. Berita adalah kehidupan manusia itu sendiri. Sehingga ketika seorang wartawan (baca: media) memahami lekuk-lekuk kehidupan masyarakat ia akan mendapati berita setiap detik setiap menit.

Politik pemberitaan adalah berita itu sendiri. Ini yang ingin saya tulis. Politik dan pemberitaan adalah dua hal yang teknis dan berbeda. Teknis karena ada disiplin ilmu tersendiri untuk masing-masing istilah itu.

Politik sebagai sebuah ilmu dan fenomena sosial kemanusian tentu akan amat panjang bila dikupas tuntas. Begitu juga pemberitaan (baca: media & jurnalisme). Tetapi bila kita hubungkan dengan kehidupan sehari-hari, keduanya bisa lebih sederhana di pertontonkan.

Kalau boleh cerita sedikit, td malam saya dan teman kelaparan di sebuah tempat yang jauh dari keramaian dan perkotaan. Perut lapar. Dan akhirnya diputuskan bikin mie goreng. Ambil panci, isi air, siapin kayu bakar, bikin api kemudian ditaruhlah panci di atas api. Lima belas menit kemudian, mie goreng sudah terhidang dan siap dimakan. Mak nyusss !

Politik itu seperti mie yang harus dipanaskan. Air itu masyarakat, media itu bilah-bilah kayu yang terbakar, proses politik itu air yang mendidih dan agenda (baca: kepentingan) politik adalah mie yang siap di santap "sang tuan".
-a.r.n.i_

Rabu, 24 Maret 2010

Menghangatkan Suasana Yang Dingin

SUSNO DUADJI VS POLRI

Sungguh cepat posisi Susno Duadji dimata opini umum. Ketika isu 'buaya vs cicak' berhembus Susno adalah 'musuh bersama'. Sekarang ketika isu tentang adanya makelar kasus di POLRI berhembus dia bak seorang pahlawan. Saat itu opini umum menganggap Susno ada di balik atau paling tidak berperan dalam rekayasa pengkriminalan Bibit dan Chandra M Hamzah. Entah rekayasa itu ada atau tidak dan seperti apakah rekayasa itu dilakukan masih gelap sampai sekarang. Dan siapa yang mengambil keuntungan dari rekayasa kasus Bibit dan Chandra - kalau ada rekayasa itu - pun tak jelas siapa. Jangan-jangan menyangkut orang-orang yang posisinya lebih tinggi dari Susno.

Dalam sebuah wawancara di TVONE (24/03/2010), seorang 'markus' mengungkapkan adanya oknum POLRI yang bergerak dan meng-komoditaskan kasus demi kepentingan pribadi. Analisa si 'pelaku' yang diwawancarai dengan memakai topeng itu sederhana : 'judi sudah dilarang dan polisi butuh sumber baru demi 'nafsu' uangnya yang kelewat batas'.

Banyak diantara polisi yang baik dan profesional. Buktinya, ada polisi (muda) - kebetulan tetangga saya, yang bingung bagaimana memproleh uang untuk kepentingan pribadi dari pelanggaran-pelanggaran lalin. Seorang "tetangga" pernah bercerita tentang masih dirinya yang masih 'pemula' dibanding polisi-polisi lain. Nah, berarti ada polisi-polisi yang masih bersih. Mereka masih melihat polisi bak pahlawan yang berjasa menyebrangkan nenek tua, seperti dahulu mereka pahami waktu TK. Tetapi ketika mereka benar-benar masuk institusi yang terhormat itu, mereka belajar sesuatu yang baru dan jauh dari idealisme.

Dalam kasus "Markus : Susno vs POLRI" ini, tak perlu kita ikutan membenarkan salah satunya. Karena bisa jadi salah satu salah atau salah duanya salah dan tak mungkin dua-duanya benar. POLRI sebagaimana saya dulu dikondisikan untuk 'nembak' waktu bikin SIM, adalah sama-sama masih sulit dipercaya dengan apa yang dilakukan Susno. Karena manuver Susno bak seorang yang tak dibela ketika ia melakukan sesuatu yang secara sistem dan 'jamaah' disepakati.

Majulah Indonesia, sampai aku bosan menunggu






Rabu, 17 Maret 2010

Terorisme Dalam Islam

Mengapa terorisme diidentikan dengan Islam :
  1. Pelaku-pelaku pengeboman objek-objek vital negara barat beragama Islam
  2. Para pelakunya menggunakan istilah-istilah Islam sebagai dasar perbuatannya
  3. Tindakan-tindakan itu (WTC 2001 misalnya) di ekspos secara amat luas dan apapun yang berkaitan dengannya ikut terbawa
Mengapa terorisme tidak bisa di identikan dalam Islam :
  1. Istilah "teror" tidak dikenal dalam Islam sehingga padanan-nya bisa jadi "fitnah", "fasad" atau yang lain, yang mana istilah-istilah tadi di tentang dan di cegah juga dalam Islam

bersambung . . .

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons