Minggu, 09 Oktober 2016

Puisi Pernikahan

AMANAH

Kau titipkan dia padaku
Kau izinkan aku memilikinya
pasti Kau akan menolongku...

memulyakannya
menyayanginya
menjaganya

maka izinkanlah aku berdoa
memohon pertolongan dan kemudahanMu
sebagai tanda kelemahanku tanpaMu
sebagai tanda syukurku tak terkira

08-10-16


KATA APA ?

Kata apa yang bisa menggambarkan perasaan?
Ketika pertemuan singkat menentukan hidup dunia-akherat
Ketika perasaan was-was hebat berangsur tenang dan menguat
bahwa kau adalah pilihan tepat

Kata apa yang bisa menggambarkan rasa ?
ketika penantian dan jarak yang jauh
ditaburkan di atas sajadah sembari berdoa dan bersimpuh

Kata apa yang bisa menggambarkan jiwa yang tenang ?
Dua kalimat sahadat diucapkan, dua tangan ditadahkan, berdoa
"Jadikan dia pemilik hatiku, penghias mataku, tuan rumah
pertimbanganku, cahaya hidupku dan pendamping perjalanannku"

Kata apa yang bisa menggambarkan kebanggaan ?
Kebanggaan memilikimu, menyayangimu, menjadi imammu
dan beribadah bersamamu...

Kata apa yang hendak kupakai untuk menyatakan cinta ?
Ketika cinta bukan benda
terlihat mata 
dan disentuh
terasa

Kata apa yang hedak kupakai untuk menyatakan cinta ?
Jika ia hanya terasa di dada
menari-nari di mata
ketika kelopak tertutup

Kata apa yang hendak kupakai untuk menyatakan cinta ?
Ketika jarak melebar dan mengangkasa
namun nafas dan hadirmu ada di sini

Rabu, 05-10-16

 
 

Rabu, 03 Agustus 2016

You're the only exception

Menikmati momen adalah kesejatian hidup kata "sufi barat". Sementara "sufi timur" mengatakan kebersatuan dengan pencipta adalah puncaknya. Menikmati harapan adalah slogan orang-orang Indonesia. Mungkin karena harapan mereka di masa lalu tak terwujud makanya mereka tak lagi menunggu realisasi dari harapan itu. Biarlah harapan saja yang ada dan bisa kami nikmati, begitu kata mereka.

Rabu, 04 Mei 2016

Label

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mampu me"labeli" dirinya sendiri. Kita mampu menyebut diri kita "manusia". Binatang dan tumbuhan tidak punya perangkat untuk melakukan itu. Mereka tidak punya bahasa untuk menyebut benda-benda. Mereka tidak punya kesadaran aku ada dan pada suatu saat nanti tidak ada.

Label itu seiring waktu dan jaman berkembang. Awalnya konsep diri yang kita punya sejauh bahwa : saya manusia dan saya anaknya x dan y. Pada tahap lebih lanjut anda bisa bilang "saya orang indonesia, mereka orang belanda dst

Pada akhirnya, label itu tertumpuk dan berfariasi. Berubah ubah seiring waktu dan umur. Bagusnya kita juga bisa melabeli orang lain. Dan lebih hebatnya lagi, orang lain dapat mengadopsi, mengambil bahkan meyakini label yang kita berikan kepadanya. Artinya, dengan label, anda bisa melabeli monyet sebagai merpati, babi sebagai sapi atau bahkan anjing sebagai tikus. Tanpa kita semua sadar bahwa itu adalah sekadar label.

Ini ulasan yang sederhana. Akan tetapi, darah telah mengucur karena label, antar sahabat ada yang saling membenci karena label, ada orang yang bunuh diri karena label, sebagian lagi malah berdikari, menginspirasi dan sukses karena label juga.

Pada akhirnya, kita memilih dan menikmati label label yang ada di sekitar. Jadi, tak perlu saya ingatkan untuk mencari apa yang ada di balik label. Toh kita semua menikmatinya.

Sekarang, mau anda labeli apa saya ini? Saya taat dan pasrah saja. Lha wong cuma label. Gitu aja kok repot :D

Jumat, 29 April 2016

How do you define yourself?

I think this is an open question? The farther we are from the answer, the better.

We are longing for that finish line. The line where we can take a deep breath and relieved.

I think the quest for that answer is not our purpose as human being. Our purpose is to keep going to the unlimited. Look at our universe, it keeps growing bigger and bigger. If you dont believe that, check some latest astronomical article that say universe is getting bigger and bigger in an unbelievable accelaration.

Atheist says that human being is just the effect of "the big bang". Religious says that human being is a God creation with certain purposes written in holy books.

When you feel thay you are really close to the answer, that is a moment when you're thrown away from the answer.

Maybe it's a paradox. But, I feel that way.

Sabtu, 23 April 2016

Melodi Perjalananku...

aku musafir
pencari "ya"
berbekal “tidak”
di lembah dusta

di sini persinggahanku
kini meja makanku
bertenda cinta
berlantai duka


kerjaku memungut sisa
dari jalan manusia
semua yang dia buang
bagiku tersayang

diam tak bergeming "striku
baik dan buruk sahabatku
teknologiku salah benar
hiburanku kebohongan

mari berjalan
tak usah bergandengan tangan
yang masih sayang dirinya slamat tinggal….

Aku termangu membaca karya penyair tak terkenal itu. Namun, lebih termangu lagi mendengar pidatonya menjelang pemakaman anaknya. Di dekat liang lihat. Jenazah sang anak di atas kedua tangannya. Ia berkata, "Ya Allah, maafkan aku yang tak mampu mendidik anakku dengan baik, hingga Kau harus turun tangan sendiri mengambilnya dan menjadikannya asuhanMu.."

Ku jadi ingat peristiwa setengah tahun lalu. Ketika itu kami - aku dan kakak-kakakku - menjadi orang terakhir yang meninggalkan makam ayahku. Kami hanya bisa berdoa. Saat itu aku belum menyadari kesalahanku. Kini - di hari Jumat yang berkah ini, aku menyadari kesalahan-kesalahanku. Ku panjatkan sejumput doa dan pengakuan.."Ya Allah, ampunilah kesalahanku karena tak mampu menyediakan 'surga' dunia yang layak untuk ayahku, hingga Engkau harus turun sendiri mengambil ayahku dan menempatkan beliau di surgaMu"

Purwokerto, 7 Maret 2014 

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons