Minggu, 01 Maret 2020

Jakarta under siege

 Jakarta as the capital and front yard of 250-millions-populations of Indonesia faces probable floods[1]. For the past 2 months, dozens uninviting floods have roamed the area wildly. Bad sewage system and highly un-manageable garbage disposal have been blamed though real responses are not in the proximity yet. Nearby cities whose rivers cross the capital exactly through the downtown, contribute to this water problem. For example, Ciliwung River, the most famous and longest river in the area, passes several business districts such as Thamrin City, Rasuna Said and Gambir. This river’s length can be tracked from Gunung Salak in West Java to Tanjung Priok in North Jakarta for as long as 332 km.

 Though the mega-city is about to lose its throne due to its notorious traffic-jams and unending floods, many people still believe that the city's status as the economic epicenter unlikely be replaced. Growing in rapid pace since the 17th century, Jakarta attracts talented and wealthy businessmen from every corner of Indonesia. Hence, several trades and business areas are spotted in almost every part of the city whilst Tana Abang remains the busiest one. The oldest University in the country, the fancy University of Indonesia, is also located in the town along with many other elite private universities such as Pelita Harapan and Bina Nusantara which also have  triggered more urbanization. While education and business have put Jakarta in spot-light since colonials era, politics has propelled the city’s population for no more than 20 years.
The flood issue in Jakarta is a prevailing task which has been tried to solve since Bang Yos era in 1990’s. A copycat design to polder pond in the Netherland had been proposed in 1990 before other ideas came up in 2000’s such as river re-vitalization, re-planting water absorber areas in Puncak, Bogor and imposing a severe penalty on river-littering. None of these proposals was implemented. Some said it was due to budget-in-availability. Other said it was because the project was object of political dominance in either municipality parliament or national parliament.            

March 1st, 2020


[1] Worthy of belief

Rabu, 29 Januari 2020

Beasiswa

Saya mendapatkan beasiswa dari Kementrian Agama Republik Indonesia di tahun 2019 kemarin. Fasilitas ini saya dapatkan melalui skema 5000 doktor. Skema ini, konon, dalam usaha menigkatkan kualitas perguruan tinggi di bawah kemenag. Selain dari itu, dilihat dari nama program ini, Dirjen Pendidikan Tinggi Islam (Pendis Islam) berkeinginan menambah jumlah doktor di PTKI yang belum bergelar doktor sebanyak 88% (sumber).

5000 doktor, beasiswa,bea siswa,ptai,djuanda bogor, kampus, universitas swasta



Tulisan ini akan sangat membosankan apabila berbicara seluk beluk Program 5000 doktor. Karena informasi ini dapat diakses dengan mudah melalui website PMU 5000 doktor. Oleh karean itu, saya ingin bicara tentang beasiswa dari sisi lain. 

Pendidikan itu mahal. Apalagi untuk jenjang lanjut S2 dan S3. Tak heran di luar negeri, ada skema pinjaman khusus untuk mahasiswa (student loan). Itu di luar negeri, di Indonesia ada ungkapan Jawa "Jer Basuki Mawa Bea". Yang pada intinya, mengenyam pendidikan memerlukan biaya (bea). Apakah ini bukti nenek moyang kita telah berhasil memprediksi kapitalisasi pendidikan? Sebagaimana Ranggawarsita konon mampu memprediksi tahun kemerdekaan Indonesia, tahap-tahap pemerintahan Jawa hingga kematiannya sendiri?

Say kira, pendidikan sebagai privilege bukanlah efek dari mahalnya biaya tetapi dari kualitas diri (diri peserta didik) yang hendak dibangun. Mahalnya biaya tidak selalu berkorelasi dengan kualitas hasil pendidikan yang baik, tetapi hasil pendidikan yang baik sering kali berkorelasi dengan "bea hidup" yang harus dikeluarkan oleh peserta didik yang kadang-kadang bisa berupa uang juga. Kalau Sunan Kalijaga "berkontemplasi" di tepi sungai 40 hari 40 malam sambil berpuasa dan menahan diri dari aktivitas duniawi sebelum mendapat karamah kewalian, Habibie harus hidup "pas-pasan" agar jadi ahli pesawat terbang di Jerman. Kalau Nabi Muhammad melewati puluhan malam sendirian di gua Hira sebelum mendapatkan wahyu dan pencerahan, mahasiswa-mahasiswa kita - dalam level berbeda mirip seperti Rasulullah, menghabiskan malam-malamnya penuh stres dan tekanan batin sebelum akhirnya sekian puluh malam lagi bangkit dengan sisa-sisa tenaga menyelesaikan disertasi dan berjibaku di sidang akhir. 

Yang ingin saya katakan adalah menjadi orang yang terdidik dan berilmu mesti melalui proses. Ada yang memilih menjadi mahasiswa perantauan di negeri orang. Susah senang dengan lika-liku kehidupan negeri sebrang. Ada yang memilih menjadi pegawai negeri di negeri Pancasila. Susah-senang dengan atmosfer kantor pemerintahan yang khas dan harus siap "menderita" dengan uang pensiunan yang meski "cukup" tapi harus "dicukup-cukupkan". Ada yang menjadi petani. Dengan ketekunannya berangkat pagi pulang sore. Bertaruh dengan harga pupuk, harga hasil panen dan hama yang bisa membuat mereka jadi raja hari ini tapi tiba-tiba jadi budak bulan depan. Semua menikmati bentuk kesulitannya sendiri dan bentuk keberhasilannya sendiri. Semua harus membayar. Sebelum akhirnya menjadi "basuki". Mereka yang berilmu. Mereka yang tercerahkan dan mencerahkan. 

Dan akhirnya, beasiswa bukanlah semacam tiket bioskop twenty-one, melainkan semacam tiket ke kawah panas candradimuka.

Bogor, 29-01-2020

Sabtu, 07 Desember 2019

Trans-National Network in International Finance Regulation

by Adi Rahmannur Ibnu

Trans-National Network (TRN) is a cooperation among countries concurred in achieving certain objective. This type of configuration is seemingly effective since the current and past experience in financial crises spreading around the globe is glued not only to a larger system than a domestic financial industry and regulation but also regulatory approach cross nations and its jurisdiction.

Trans-National Network (TRN) in international finance regulation sometimes poses underrated role. This inter-states cooperation has been received minor focus by government agencies after the difficulties converging each jurisdiction interests. Proven, some countries seem to firmly and stubbornly evading its implementation. The clean and clear example was the USA decision no to follow the capital adequacy requirements set in the Basel III documents. Japan followed this decision as well. Additionally, each country theoretically will put its domestic risks in a such unidentified manner which potentially weaken the international finance agreement such as Basel III. 

International finance regulation faces dilemma in choosing the appropriate mode of enforcement in one hand and convergence issue on the other hand. These choices are positioned here and there on a spectrum between extremely firm enforcement and soft-voluntary enforcement. To put it more pessimistically, financial crisis has severely reduced global confidence on the current financial regulation but formulating the newer and more robust one need more than coordination and investigation through TRN. This article tries to argue that TRN should not only function as a media to enforce the current regulation, indeed, TRN should orient the member countries to new horizon of cooperation and transparency.

to be continue

Selasa, 09 Juli 2019

UAS FEI Unida 2019

Minggu, 16 Juni 2019

Pikiran yang Dipetakan

Bila bumi sudah dipetakan sekitar ratusan tahun yang lalu, pikiran manusia telah dipetakan lebih dari 2000 tahun yang lalu.

Adalah seorang Plato, sosok yang dikenal sebagai seorang filsuf yang lahir di era Yunani kuno 2000an tahun yang lalu ini telah merumuskan bagaimana pikiran - dalam hal ini argumentasi dan pertanyaan dirumuskan. Kemampuannya merumuskan pikiran dan argumentasi menyebabkan dia dapat mengoreksi, menguliti kelemahan dan "mengalahkan" lawan bicaranya melalui - ini keunikan Plato, dialog.Ironisnya, Plato sendiri meninggal dunia dengan cara "dipaksa" minum racun dengan tuduhan telah menyebarkan kekacauan umum melalui dialog-dialog yang dilakukannya. Pada era itu kegemaran Plato adalah berkeliling kota dan mengajak siapa pun yang ditemuinya berdialog. Plato berdialog di sembarang tempat; di pasar, di jalanan, di kedai, di tepi sungai, di tepi pantai dll. Melalui dialog itu Plato dituduh telah meracuni pemikiran sebagian besar kaum muda yang mengadopsi dan gandrung terhadap cara berpikir dan berlogika Plato.


Seperti apakah dialog atau tanya jawab yang sering kali Plato lakukan?

Kebiasaan Plato adalah menguji argumentasi lawan. Misalnya :

P: "Apa itu kebahagian?"
X: "Kebahagian adalah memiliki harta yang cukup."
P: "Apakah semua orang yang memiliki harta cukup bahagia? Apakah ada orang yang memiliki harta yang cukup tetapi tidak bahagia?"

[P=Plato, X=sosok anonim]

Cara menguji seperti itu dapat diterapkan ke berbagai konteks, misalnya dunia binatang. 
plato, logika, filosofi, filsafat

Pernyataan: Burung adalah binatang yang bisa terbang.
Pertanyaan: Adakah burung yang tidak bisa terbang? Adakah binatang yang bisa terbang namun TIDAK tergolong ke dalam bangsa burung?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merangsang pikiran menemukan definisi baru atau definisi yang lebih tepat mengenai berbagi tema kehidupan. Mendorong manusia meluncur ke laut-laut baru, seperti Columbus yang "nekat" berlayar ke India namun tersesat ke benua Amerika. Bayangkan! Buah dari keberanian mengarungi wilayah baru, meski gagal dan tersesat tetap sebuah penemuan.

Columbus mungkin bersedih hati karena gagal menemukan India. Dan untuk menutupi kesalahannya, ia berteriak-teriak memanggil orang "Indian" Amerika sebagai bangsa India yang tinggal di Asia Selatan. Siapa sangka, sekian ratus tahun setelah kesalahnnya, Columbus terkenal di seluruh dunia sebagai penemu benua Amerika. 




Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons