Senin, 04 Januari 2016

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya

W.S. Rendra (1967) Djakarta Dalam Puisi Indonesia
ws rendra, pesan pencopet pada pacarnya, puisi, sastrawan, rendra


Sitti,
kini aku makin ngerti keadaanmu
tak kan lagi aku membujukmu
untuk nikah padaku
dan lari dari lelaki yang miaramu

          (Lelawa terbang berkejaran
         tandanya hari jadi sore
         Aku bernyanyi di kamar mandi
         Tubuhyu yang elok bersih kucuci
         O, abang kekasihku
         kutunggu kau di tikungan
         berbaju renda
         berkain baru)

Nasibmu sudah lumayan
Dari babu jadi selir kepala jawatan
Apa lagi
Nikah padaku merusak keberuntungan
ini bukan ngesah
Tapi aku memang bukan bapak yang baik
untuk bayi yang lagi kau kandung

         (Lelawa terbang berkejaran
         tandanya hari jadi sore
         mentari ngeloyor muntah di laut
         mabuk nafas orang Jakarta
         O, angin
         O, abang
         Sarapku sudah gemetar
         menanti lidahu
         njilati tubuhku)

Cintamu padaku tak pernah kusangsikan
tapi cinta cuma nomor dua
Nomor satu carilah keslametan
hati kita mesti iklas
berjuang untuk masa depan anakmu
Janganlah tanggung-tanggung menipu lelakimu
Kuraslah hartanya
Supaya hidupmu nanti sentosa
Sebagai kepala jawatan lelakimu normal
suka disogok dan suka korupsi
Bila ia ganti kau tipu
itu sudah jamaknya
maling menipu maling itu biasa
Lagi pula
di masyarakat maling kehormatan cuma gincu
Yang utama kelicinan
Nomor dua kebranian
Nomor tiga keuletan
Nomor empat ketegasan, biarpun dalam berdusta
inilai ilum masyakat maling
Jadi janganlah ragu-ragu
rakyak kecil tak bisa ngalah melulu

         (Lelawa terbang berkejaran
         tandanya hari jadi sore
         Hari ini kamu mesti kulewatkan
         karna lelakiku telah tiba
         Malam ini
         badut yang tolol bakal main akrobat
         di dalam ranjangku)

Usahakanlan selalu menanjak kedudukanmu
usahakan kenal satu mentri
dan usahakan jadi selirnya
Sambil jadi selir menteri
tetaplah jadi selir lelaki yang lama
kalau ia menolak kau rangkap
sebagaimana ia telah merangkapmu dengan istrinya
berarti ia tidak tak tahu diri
Lalu depak saja dia
Jangan kecil hati lantaran kurang penddikan
asal kau bernafsu dan susumu tetap baik bentuknya
ini selalu menarik seorang menteri
Ngomongmu ngawur tak jadi apa
asal bersemangat, tegas, dan penuh keyakinan
Kerna begitulah cermin seorang mentri

         (Lelawa terbang berkejaran
         tandanya hari jadi sore
         Kenanganku melayang ke saat itu
         di tengah asyik nonton pawai
         kau meremas pantatku
         demikianlah kita lalu berkenalan
         ialah setelah kutendang kakimu
         dan sekarang setiap sore
         bagaikan pisang yang ranum
         aku rindu tanganmu
         untuk mengupasnya)

Akhirnya aku berharap untuk anakmu nanti
Siang malam jagalah dia
Kemungkinan besar ia lelaki
Ajarlah berkelahi
dan jangan boleh ragu-ragu memukul dari belakang
Jangan boleh menlai orang dari waktanya
Sebab hanya ada dua nilai: kawan atau lawan
Kawan bisa baik sementara
Sedang lawan selamanya jahat nilainya
Ia harus diganyang sampai sirna
Inilah hakekat ilmu selamat
Ajarlah anakmu mencapai kedudukan tinggi
Jangan boleh ia nanti jadi profesor atau guru
Itu celaka, uangnya tak ada
kalau bisa ia nanti jadi polisi atau tentara
Supaya tak usah beli beras
kerna dapat dari negara
dan dengan pakaian seragam
dinas atau tak dinas
haknya selalu utama
Bila ia nanti fasih merayu seperti kami
dan waktanya licin seperti saya, nah!
Ini kombinasi sempurna
Artinya ia berbakat masuk politik
Siapa tahu ia bakal jadi anggota parlemen
Atau bahkan jadi menteri
paling tidak hidupnya bakal sukses di Jakarta

         (Lelawa terbang berkejaran
         tandanya hari jadi sore
         Opelet-opelet memasang lampu
         Prempuan-prempuan memasang gincu
         Dan, abang, pesankan padaku
         di mana kita bakal ketemu)

(sumber : ceritanet.com)

Rabu, 30 Desember 2015

Cinta Itu Nomor 2, Selamat No 1


Baru saja saya membaca puisi sang burung merak - WS Rendra, berjudul Pesan Pencopet Pada Pacarnya. Kaget tapi kemudian lega. Itulah perasaan saya setelah membacanya. Kaget karena dia bilang "cinta itu nomor 2". Tetapi bait kedua melegakan saya. Rendra bilang "keselamatan nomor satu".
Memang begitulah hidup manusia. Rendra telah dengan amat indah menangkap lekuk hidup manusia yang paling dalam namun nyata. Cinta memang ada, namun tak jarang orang mengatakan cinta padahal yang ia maksud adalah ego, prestise, keangkuhan, nama baik dll. Begitulah cinta. Cinta yang sebenarnya cinta akan mengalah ketika dihadang tuntutan untuk selamat. Bila ia tidak mau mengalah dihadapan tuntutan keselamatan, ia bisa jadi bukan cinta. Ia bisa jadi egoisme berselubung kata cinta, romantisme dan haru-biru.
Sajak Rendra tersebut lucu, tragis sekaligus menusuk. Ternyata cinta hadir di bilik reot pencopet yang punya hubungan jarak jauh dengan sang pacar yang selir pejabat dan mungkin suatu saat nanti istri mentri.
Mereka yang bermobil mewah, tak pernah sinar matahari dari pagi-malam dan selalu kebingungan makan ditempat ekslusif mana ternyata tak pernah sekalipun mengenal cinta sejati. Mungkin nanti mereka akan mengenal juga cinta sejati. Tapi nanti, setelah mereka tua dan tidak eksis lagi.
Sekarang mari kita rayakan cinta sang pencopet dan si sitti selir pejabat itu.
31 Des 2015

Kamis, 24 Desember 2015

Sang Pujangga

Jatuh cinta membuat orang jadi pujangga. Terbitnya matahari dapat diubahnya bak emas kemilau yang menerangi dunia hingga bayangan pun malu tercipta di balik benda-benda

Putus cinta membuat orang jadi pujangga. Terbitnya matahari membuat ia terpekur menikmati sejuta kenangan hanya untuk membuat bangun dari lamunan - dalam, khidmat dan bangkit meniti hari hanya untuk membangun impian yang terbangun baru sejumput.

Kesenangan dan ekstase membuat orang jadi pujangga. Senyum dan semangat tersebar hingga ke pelosok negeri hanya untuk memberi kabar dan memberi sapa.

Musibah membuat orang jadi pujangga. Sejumput sakit jadi keindahan. Sejumput tangis jadi sajak berbaris-baris. Sejumput luka adalah rasa yang bergelora dalam pena dan susunan kata-kata.

Aku mungkin telah terpengaruh kata-kata pujangga durjana yang sombong bak telah dikenal dunia.

Ah biarlah. Hati kadang perlu berkata. Pikiran kadang perlu tercurah hanya untuk kenikmatan sesaat. Dan perayaan. Saat ini. Dan nanti

Minggu, 20 Desember 2015

Kematian Yang Manis

Kata almarhum Steve Job dalam pidatonya di depan para lulusan Stanford, kematian adalah 'penemuan' hidup yang penting. Di depan kematian, kita berusaha membuat apa yang ada menjadi berarti. Kematian tiba-tiba bisa membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang berbeda. Hal-hal kecil yang biasanya kita lewatkan atau sepelekan tiba-tiba menjadi ingin kita kerjakan sebaik-baiknya, karena kita ingin dikenang dalam kebaikan, karena kita ingin meninggalkan sesuatu yang abadi. Jauh di lubuk hati, keabadian adalah yang kita inginkan. Badan dan beda-beda pada akhirnya jadi kotoran tanah. Kenangan dan warisan-warisan kita buat agar kita abadi sepeninggal kita.

Sekian banyak orang meninggal tiba-tiba dan mereka tidak sempat dengan sadar membuat peninggalan untuk dikenang selepas kematiannya. Namun begitu, mereka tetap dikenang sepeninggalnya. Mungkin karena setiap detik hidupnya memang sudah merupakan persembahan hidup mati untuk dunia dan kehidupannya di dunia. Terlepas persembahannya itu benar atau salah. Yang jelas peran "keaktoran" nya di dunia telah ia jalankan sampai pol dan semaksimal mungkin.

Maka, terlintas tokoh-tokoh dunia yang meninggal bersama otensitasnya. Tanpa diketahui untuk pelajaran apa mereka meninggalkan kenangan dan wariasan. Ada Whitney Houston, Robin Williams, Lady Dianna, Michael Jackson hingga Hitler.

Sementara itu Billy Joe asyik bernyanyi sambil mengenang Amy Winehouse


27 gone without a trace

And you walked away from your drink
Amy don't you go! I want you around

Rabu, 16 Desember 2015

Teknologi vs Politik

Teknologi adalah segala sesuatu yang manusia buat untuk memperluas potensi kemanusiaannya ; baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Faktanya, teknologi telah berkembang, tumbuh dan menjadi media yang ribuan kali lebih baik daripada 50 tahun yang lalu. Dahulu butuh seharian penuh untuk menyampaikan sejumput pesan dari satu kota ke kota lain di Jawa. Di beberapa wilayah kadang memakan lebih dari satu hari. Sekarang dalam hitungan detik satu pesan - bahkan ratusan pesan dapat tersebar. Bahkan dalam satuan wilayah yang lebih luas. Teknologi telah membuat 50 tahun lalu sebagai masa lalu yang teramat jauh. Anak muda sekarang amat sangat sulit membayangkan ""terbelakangnya" kehidupan masyarakat 50 tahun lalu.
Politik di sisi lain masih bergulat dengan masalah 50 bahkan 100 tahun yang lalu. Pemerintah yang abai masih jadi masalah. Korupsi dan kong kalikong masih ada di sekitat kita. Sekian orang masih saja mengambil kesempatan posisi dan jabatan mereka untuk kepentingan sendiri. Dan parahnya kita makin maklum. Lidah kita pun makin kelu meyakinkan diri bahwa kita mampu tetap di jalan yang benar ketika kita dalam posisi yang penuh godaan itu.

Entah mengapa politik tidak bisa berkembang sebagaimana teknologi. Mungkin politik memang bukanlah sejenis teknologi. Politik mungkin sisi lain dari hasrat dan ego manusia. Ia cermin dari hasrat dan ego masyarakat kekinian. Politik hanyalah cermin dari kita sendiri.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons