Minggu, 20 Desember 2015

Kematian Yang Manis

Kata almarhum Steve Job dalam pidatonya di depan para lulusan Stanford, kematian adalah 'penemuan' hidup yang penting. Di depan kematian, kita berusaha membuat apa yang ada menjadi berarti. Kematian tiba-tiba bisa membuat kita melihat segala sesuatu dari sudut pandang berbeda. Hal-hal kecil yang biasanya kita lewatkan atau sepelekan tiba-tiba menjadi ingin kita kerjakan sebaik-baiknya, karena kita ingin dikenang dalam kebaikan, karena kita ingin meninggalkan sesuatu yang abadi. Jauh di lubuk hati, keabadian adalah yang kita inginkan. Badan dan beda-beda pada akhirnya jadi kotoran tanah. Kenangan dan warisan-warisan kita buat agar kita abadi sepeninggal kita.

Sekian banyak orang meninggal tiba-tiba dan mereka tidak sempat dengan sadar membuat peninggalan untuk dikenang selepas kematiannya. Namun begitu, mereka tetap dikenang sepeninggalnya. Mungkin karena setiap detik hidupnya memang sudah merupakan persembahan hidup mati untuk dunia dan kehidupannya di dunia. Terlepas persembahannya itu benar atau salah. Yang jelas peran "keaktoran" nya di dunia telah ia jalankan sampai pol dan semaksimal mungkin.

Maka, terlintas tokoh-tokoh dunia yang meninggal bersama otensitasnya. Tanpa diketahui untuk pelajaran apa mereka meninggalkan kenangan dan wariasan. Ada Whitney Houston, Robin Williams, Lady Dianna, Michael Jackson hingga Hitler.

Sementara itu Billy Joe asyik bernyanyi sambil mengenang Amy Winehouse


27 gone without a trace

And you walked away from your drink
Amy don't you go! I want you around

Rabu, 16 Desember 2015

Teknologi vs Politik

Teknologi adalah segala sesuatu yang manusia buat untuk memperluas potensi kemanusiaannya ; baik secara pribadi maupun secara bersama-sama. Faktanya, teknologi telah berkembang, tumbuh dan menjadi media yang ribuan kali lebih baik daripada 50 tahun yang lalu. Dahulu butuh seharian penuh untuk menyampaikan sejumput pesan dari satu kota ke kota lain di Jawa. Di beberapa wilayah kadang memakan lebih dari satu hari. Sekarang dalam hitungan detik satu pesan - bahkan ratusan pesan dapat tersebar. Bahkan dalam satuan wilayah yang lebih luas. Teknologi telah membuat 50 tahun lalu sebagai masa lalu yang teramat jauh. Anak muda sekarang amat sangat sulit membayangkan ""terbelakangnya" kehidupan masyarakat 50 tahun lalu.
Politik di sisi lain masih bergulat dengan masalah 50 bahkan 100 tahun yang lalu. Pemerintah yang abai masih jadi masalah. Korupsi dan kong kalikong masih ada di sekitat kita. Sekian orang masih saja mengambil kesempatan posisi dan jabatan mereka untuk kepentingan sendiri. Dan parahnya kita makin maklum. Lidah kita pun makin kelu meyakinkan diri bahwa kita mampu tetap di jalan yang benar ketika kita dalam posisi yang penuh godaan itu.

Entah mengapa politik tidak bisa berkembang sebagaimana teknologi. Mungkin politik memang bukanlah sejenis teknologi. Politik mungkin sisi lain dari hasrat dan ego manusia. Ia cermin dari hasrat dan ego masyarakat kekinian. Politik hanyalah cermin dari kita sendiri.

Minggu, 04 Oktober 2015

Maldini vs Beckham

Mereka adalah dua pesepakbola terkenal di dunia. Mereka berdua adalah ukuran standard tingkat kegandrungan seseorang terhadap sepakbola. Bila anda tidak tahu mereka berdua berarti anda bukan pecinta sepakbola. Anda hanya suka dan tertarik saja. Atau mungkin ada malah membencinya. Teruslah membaca karena tulisan ini tidak hanya ditujukan untuk para pecinta sepakbola.

Baru-baru ini David Beckham, salah satu ikon sepakbola, fashion dan pop culture dunia, curhat di media sosial. Hatinya hancur ketika salah satu anak laki-lakinya tidak ingin melanjutkan lagi bermain sepakbola di akademi. Alasannya, setiap orang selalu membandingkan dirinya dengan sang ayah. Dan dia tidak nyaman dengan tekanan sosial seperti itu. Ya, setiap orang punya ide, bakat dan preferensinya sendiri, tapi tekanan publik terlalu besar. Dan menurut saya, sang anak, memilih mundur dari dunia sepakbola daripada berkonfrontasi dengan publik bahwa dirinya bermain karena dia menginginkannya. Bukan karena ayahnya adalah pe sepakbola juga.

Anak David Beckham adalah tipikal anak modern yang terekspose ekspektasi publik dengan standard kebaikan dan "kenormalan" tertentu. Lihatlah generasi Paolo Maldini anak Cesare Maldini, dan juga Casper Schemechel. Mereka mampu mengatasi tekanan itu. Karir mereka tak melulu sebanding dengan sang orang tua. Tapi mereka sadar mereka bermain untuk diri mereka sendiri. Untuk menambah contoh, bisa juga kita lihat anak Johan Cruiff dan anak Pele. Mereka tetap bermain sepakbola, entah apa pun pendapat orang,entah sejelek apa pub pencapaian mereka. Selain mereka berempat masih ada beberapa pemain lagi yang berhasil bermain di bawah bayang-bayang sang ayah. Perbedaan mereka dengan anak David Beckham adalah mereka tidak lahir di era digital dimana gaya, pendapat dan kritik menjalar hanya dengan sentuhan jari.

Hipotesis bahwa era informasi digital dan media sosial mempengaruhi kepribadian dan pilihan sikap seseorang amatlah sulir ditolak. Terutama di kalangan anak muda (13 - 30 tahun) kalau tidak boleh menyebut semua umur. Ukuran baik, cantik, kekinian dll menjadi lebih nyata. Ukurannya lebih mudah dicari dan dibuat, karena medianya adalah teks, gambar atau video di media sosial. Karena ukurannya yang relatif mudah dicari dan dibuat maka fondasi mental dan sikap seseorang yang tercipta pun rapuh, serapuh membuat teks, gambar atau audio visual yang kontra.

Pada kasus bayang-bayang orang tua yang menghantui anak David Beckham, kritik, pendapat dan ekspektasi publik atau ekspektasi orang tua adalag keniscayaan. Seniscaya anda adalah anak dari orang tua anda. Seniscaya Joko Wi adalah orang Solo. Tetapi itu hanyalah personalitas seseorang yang tidak bisa dihilangkan. Namun, kepribadian adalah preferensi,keinginan dan cita-cita yang muncul dari perjalanan hidup seseorang. Perjalanan hidup seseorang akan berbeda satu sama lain,meskipun ia darah daging kita atau saudara kita. Kewajiban sang orang tua adalah mendampingi bahwa dirinya akan terus menemani perjalanan hidup sang anak di masa indah dan sulit atau pun di masa ia benar maupun salah.

Semoga era digital ini tetap mendorong setiap anak manusia yakin dan menemukan jalan dan hidupnya sendiri.

Minggu, 4 Oktober 2015

Sabtu, 19 September 2015

1 Tahun VS 10 Tahun

Suatu buku pernah mengatakan waktu telah memendek. Setahun menjadi serasa 1 bulan. Sementara 10 tahun terasa bagaikan 1 tahun. Anda boleh menginterpretasikannya dengan apapun. Bisa dengan teori relativitas waktunya Einstein. Boleh juga menghubungkannya dengan kemajuan alat transportasi sekarang. Ataupun majunya alat komunikasi yang bikin komunikasi ribuan kilometer bisa dilakukan dengan sentuhan jari.
Tapi yang sedang saya pikirkan adalah hubungannya dengan karakter seseorang. Baik dari segi berpikir hingga cara berpakaian.
Dalam satu tahun orang bisa menjadi lebih kekinian hanya dengan membeli produk gadget terbaru. Dengan gadget terbaru lingkungan bergaul, cara bergaul, cara berkomunikasi pun berubah sedikit demi sedikit. Proses sedikit demi sedikit ini berlangsung selama setahun. Di masa lalu evolusi kepribadian seseorang hanya terjadi di padepokan-padepokan. Kalaupun tidak dipadepokan, bisa ditempat lain yang memungkinkan dan dibawah bimbingan guru yang setia mengawasi. Tak heran proses transformasi yang terjadi selesai dalam waktu paling cepat 10 tahun. Hasilnya pun bertahan seumur hidup. Sedangkan sekarang, proses transformasi bisa terjadi hanya dalam hitungan tahun. Bahkan bulan. Namun, itu semua tidak menjanjikan tahun depan sang pelaku tidak akan berganti karakter dan jalan hidup.
~Minggu, 20 September 2015~

Minggu, 01 Desember 2013

Industri dan Seksualitas

Tulisan ini terinspirasi dari buku berjudul “No More Nice Guys” karya Robert Glover.
hugh hefner, seksualitas, sex, seks, islam dan seksualitas, industri seks, sex industri, hefner
Hugh Hefner, kakek tua pendiri Playboy.
Seksualitas adalah salah satu hal mendasar kehidupan manusia. Kita lahir ke dunia karena adanya potensi seksual pada orang tua kita. Tanpa potensi ini, ras manusia akan mandeg, tak berkembang dan terancam kepunahan. Kita juga harus bersyukur karena potensi ini oleh Allah SWT diberi “pemanis” berupa fungsi rekreatif. Maksudnya, di dalam potensi seksual manusia ada rasa nikmat, relaksasi, rekreatif, menyenangkan dan (kadang) membahagiakan/menentramkan. Kalau tidak – lagi-lagi – ras manusia mungkin tak akan berkembang sebanyak sekarang. 

Namun, industri telah mendramatisir seksualitas. Maka lahirlah, industri pornografi yang berkembang luar biasa. Sebelum friendster, facebook dan media-media sosial lain muncul, lebih dari 60% omset transaksi via internet berkaitan dengan industri pornografi (sex). Setelah muncul era jejaring sosial, angkanya menurun tapi tidak terlalu signifikan untuk sebuah industri yang hanya mengandalkan aurat dan libido. 

Masuknya industri ke dunia seksualitas manusia membuat seksualitas manusia menjadi lebay. Seks bukan lagi sekadar fungsi reproduksi dan rekreasi tapi menjadi alat rekreasi-yang-amat-sangat-super-lebay. Pornografi dan fantasinya membuat seksualitas lepas dari kenyataan yang anda. Seks sebagai hubungan mendasar laki-laki perempuan, dibayangkan sebagai hubungan badan semata. Tidak ada proses saling mengenali antara laki-laki perempuan. Tidak diberitahukan bahwa laki-laki perempuan punya emosi yang harus disesuaikan sebelum beraktivitas bersama-sama – entah apa pun aktivitas itu. Tidak ada informasi yang komprehensif mengenai posisi hubungan emosional, sosial antara laki-laki dan perempuan. Analogi yang gampang adalah krupuk. Sebagian orang kalau makan harus dengan krupuk. Bahkan tidak mau makan kalau tidak ada krupuk. Padahal krupuk bukan makanan utama. Krupuk hanyalah penyedap rasa dari sarapan atau makan siang. Kandungan gizinya pun sedikit. Pada posisi ini dia telah kehilangan pegangan bahwa yang utama adalah makan. Selama 4 sehat lima sempurna, pake krupuk atau tidak menjadi tidak terlalu penting. Kemudian rokok. Katakanlah, rokok asal-usulnya dari budaya suku Indian di Amerika Utara sebagai tanda perdamaian dengan bangsa pendatang dari Inggris. Karena industri masuk ke rokok, maka rokok tidak lagi berfungsi sebagai tanda perdamaian, namun sudah jadi gaya hidup, status sosial, identitas kelompok dll. Maka, sebagian orang merasa ada yang kurang kalau tidak merokok, padahal kita yang melihatnya tidak melihat kekurangan apa pun pada orang itu. Seks pun seperti itu. Seks-situasinya dan keadaannya dianggap harus seperti yang terlihat di film-film porno. Maka lahirlah aktivitas seks yang tidak sehat. Seks harus dengan pasangan seperti bintang-bintang porno, harus ada stimulus berupa fantasi atau aktivitas tertentu yang aneh-aneh. Bila tidak itu bukan seks. Maka muncullah ketidak-puasan, ketidak-tentraman, ketidak-bahagian dan akhirnya selingkuh, pekerja seks komersial dan pornografi jadi pelarian. Namun, dengan pelarian itu tak kunjung mendapat kepuasan. Maka, hal itu jadi lingkaran setan yang tak kunjung selesai. Maka, Robert Glover menulis : · Pornography creates unrealistic expectations of what people should like and what sex should be like. · Pornography addicts men to bodies and body parts. · Pornography can easily become a substitute for a real sexual relationship. · Pornography creates a trance in which men can be sexual while staying distracted from their shame and fear. · Pornography compounds shame because it is usually hidden and used in secret. Sedangkan mengenai fantasi seks dan atau berfantasi saat berhubungan, Robert Glover menulis : Fantasy is a form of dissociation — the process of separating one's body from one's mind. When a person fantasizes while being sexual he is purposefully and actively leaving his body. Fantasizing during sex makes about as much sense as thinking about a Big Mac while eating a gourmet meal. 

Mungkin benar kata Marx – saya tidak mengidolakan Marx lho J – kapitalis memanfaatkan apa pun demi menghasilkan kapital (uang) tanpa memperhitungkan efeknya. Dan sebenarnya para kapitalis telah memasuki semua sendi kehidupan manusia. Dari soal seksualitas hingga dunia politik. 

Manusia tidak bisa lagi melihat kehidupan di sekelilingnya sebagaimana yang diinginkan Tuhan. Manusia tidak lagi melihat seksualitas sebagai ciri sejati kemanusian yang sakral, namun telah menjadi candu dan pelarian. Di dunia politik; harapan, janji dan harapan, karier, jabatan dan gengsi menjadi arti politik sebenarnya. Politisi dan masyarakat pun jadi tak paham lagi apa arti politik yang sebenarnya. Sehingga di satu sisi ada yang memuja dan terus akan memuja idola politiknya sampai mati sedangkan di sisi lain ada yang super apatis dengan kemunafikan dan kebusukan politisi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons