Jumat, 05 Agustus 2011

Merah Biru

Misalkan pada tahun 2000 Amerika Serikat runtuh, Jepang amblas ke laut dan semoga "negeri maju" raib dari muka bumi. Akan lebih baiklah negeri-negeri berkembang? Atau akan lebih buruk?

Para ahli jarang bersepakat, dan menghadapi pertanyaan seperti itu apalagi. sebagian para ekonom mengatakan "lebih baik". sebagian lagi mengatakan "lebih buruk". Sementara kita orang awam pusing, seorang guru besar ahli ekonomi di Universitas Boston yang menulis penutup buku Pioneers in Development melucu. Ia menyebut golongan ekonomi pertama "Kaum Merah", dan golongan ekonomi kedua "Kaum Biru."

Bagi "Kaum Merah", persentuhan antara sebuah negeri miskin dengan negeri kaya hanya akan mencelakakan si melarat. Bantuan luar negeri, modal asing, keikutsertaan Bank Dunia dan IMF, dianggap memasukkan negeri-negeri miskin ke dalam suatu sistem internasional yang menyebabkan mereka jadi - atau tetap jadi - kurang berkembang. Kadang-kadang hal memang disengaja, kata "Kaum Merah", karena niat untuk menghisap kepentingan sepihak. Tetapi kadang-kadang juga karena tak sengaja: mengkaitkan mengkaitkan diri dengan negara-negara kaya, kata "Kaum Merah" pula, menjadikan sebuah negara miskin kian sulit serta mustahil untuk memilih cara pembangunannya sendiri.

Dan hasilnya? "Kaum Merah" menunjuk: yang memperoleh kenikmatan dari kontak negeri kaya itu hanya selapis kecil manusia di negeri miskin: para pemegang kekuasaan politik yang mungkin dapat komisi atau Sogok, serta para pemegang kekuasaan ekonomi yang sudah terlatih dengan omong Inggris, kelincahan manajemen modern dan akal panjang abad ke-20, hal-hal yang diperlukan dalam bisnis dengan orang asing. Mereka yang bukan perjabat dan yang berada jauh dari kancah ekonomi modern, akan tergeser. Garis perbedaan sosial pun membelah dahsyat. Walhasil, ketika sebuah negeri berkembang melakukan integrasi dengan sistem internasional, yang terjadi ialah suatu disintegrasi dalam tubuh negeri itu sendiri.

Benarkah? Setidaknya sebagian dari argumen itu perlu didengar. Tapi baiklah kini kita simak pendapat "Kaum Biru". Menurut "Kaum Biru", perkembangan sebuah negeri miskin menjadi kurang miskin (atau kaya dan "maju") berjalan secara lurus: selangkah demi selangkah, sebuah negeri naik, dari keadaan mandek sampai dengan lepas landas. Dalam proses itu, negara yang sudah kaya dapat menyediakan hal-hal yang dperlukan untuk perkembangan alias alias pembangunan itu: modal, devisa atau mata uang yang bisa laku buat berdagang di pasar dunia, ketrampilan, teknologi. Jangan salah paham. "Kaum Biru" juga setuju bahwa bantuan luar negeri dari utara ke selatan itu bukan sekadar kedermawanan. Negeri kaya punya kepentingan buat membantu negara miskin - misalnya buat memperluas pasar atau menyediakan tenaga buruh yang murah.

Dan "Kaum Biru" pun menunjuk contoh kemajuan yang terjadi dengan mengesankan di Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Singapura, Afrika Barat...

Tentu saja uraian di atas agak menyederhanakan soal. Tapi harus diakui, bahwa hari-hari ini kita melihat banyak "Kaum Biru" yang ketawa dan "Kaum Merah" yang nampak terbata-bata. Bukan saja karena negeri-negeri seperti Korea Selatan dan Singapura ramai-ramai dipuji oleh para ahli dan para pelancong, tapi juga karena kisah sukses mereka mulai kian banyak diikuti negeri lain.

Sejak tahun 1966, Indonesia, misalnya, melalui guncangan politik yang sangat keras dan berdarah, meninggalkan pemikiran "Kaum Merah" yang berseru "Go to hell with your aid". Sejak itu Indonesia masuk kedalam pemikiran “Kaum Biru”. Kini, sejak tahun 1989, pelbagai negeri sosialis juga mengikuti proses yang sama. RRC, yang pernah jadi tauladan utama “Kaum Merah”, kemudian memasukan sejumlah modal asing, memanggil investor Amerika atau Prancis atau Jepang, menanggalkan baju Mao dan mendatangkan Pierre Cardin. Juga kini; meskipun di Beijing Partai Komunis tetap berkuasa, antara lain dengan menembaki mahasiswa, bapak Li Peng mengenakan dasi dan jas buat menyambut kapitalisme. Uni Soviet tak ketinggalan. Ia berusaha agar bisa menjadi anggota GATT, juga jadi anggota klub negeri-negeri yang punya cabang restoran McDonald.

Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa “Kaum Merah” yang terdengar lebih gagah berani dan lebih mengetuk hati ketimbang mengetuk perut kini kurang didengar? Saya tak tahu jawabannya. Mungkin diseantero negeri sosialis akhirnya orang manggut-manggut kepada apa yang pernah dikatakan oleh Joan Robinson: “Kenestapaan akibat dihisap oleh para kapitalis bukan apa-apa bila dibandingkan dengan kenestapaan karena sama sekali tak dihisap”. The misery of being exploited by capitalists is nothing compared to the misery of not being exploited at all.

Betapa malang, oh nasib. Tapi mungkin juga betapa besar kini kesempatan untuk mencoba dalam praktek (dan merenungkan dalam teori) bagaimana kita tak terus terpaku kepada Birunya Biru dan Merahnya Merah. Bukankah hidup, kata orang, adalah sebuah pelangi.

20 Januari 1990

Selasa, 26 Juli 2011

Kalau memang itu maumu

Kalau memang itu maumu
Mencari bahagia dengan menuruti nafsu
Terserah kamu
Pandailah sendiri dan bodohlah sendiri

Kehidupan dan kematian
Keuntungan dan kerugian
Kau sendiri yang menentukan sesudah Tuhan
Keutara atau keselatan
Kecahaya atau kegelapan
kau sendiri yang membuat keputusan

Buat apa ku mengingatkan
Kalau Tuhan saja tiada engkau dengarkan
Silahkan jalan
Hebatlah sendiri dan konyol-lah sendiri

Kenikmatan dan kepuasan
Bukanlah pada hayalan
Tapi didalam sehatnya akal pikiran

Mencari rahasia Tuhan
Sejatinya kebahagian
Memijakkan kaki di bumi kenyataan

Lampiaskanlah semau-maumu
Hanyutkanlah diri sesuka-sukamu
Tapi jangan sesal akan cepat datang mautmu


-Munif Bahaswan-

Minggu, 24 Juli 2011

Mengapa Nazarudin Jadi "Bang Toyib"

Kalau grup band Wali nyanyi, "aku bukan bang Toyib" maka Nazarudin benar-benar jadi Bang Toyib. Bisa jadi 3 kali puasa dia tak akan pulang ke Indonesia.

Mengapa Nazarudin tidak pulang ada beberapa kemungkinan. Tentu saja analisis ini bersifat top secret karena melibatkan informasi dari pejabat-pejabat yang masuk "ring 1"
  1. Dia tidak pulang karena mbantuin Doraemon dan Nobita melawan raja matahari di Jepang
  2. Dia tidak pulang karena dapet proyek mbenerin tembok China. Dari proyek ini Nazar bisa dapat trilyunan. Bayangin aja panjang tembok China
  3. Dia tidak pulang karena pengen go internasional kaya Anggun. Tapi kalau Anggun "ngadu nasib" di Prancis, Nazar pergi ke Philipina karena dia ga bisa bahasa Prancis. Di Philipina dia sudah janjian les privat Bahasa Tagalog dengan Christian Bautista, tarifnya 100 dolarUS$ per jam
Terimakasih karena Anda telah menganggap tulisan ini "SERIUS"....

CATATAN PINGGIR : Adiluhung

Tuan Adigang hidup di sebuah rumah ber-AC sentral yang sejuk, naik Mercy Tiger dan mengenakan arloji Rolex Oyster. Tapi ia, yang nama lengkapnya Drs. Adigang Adigung Adiguna, juga mengagumi Ronggowarsito.

Baginya, pujangga Jawa abad ke-19 itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidupnya di tahun 1987 yang baru berakhir ini. Ronggowarsito, katanya suatu ketika, adalah puncak kebudayaan. Dia menunjukkan sesuatu yang adilihung.

Anda tahu apa arti adiluhung? Bila orang yang diajaknya bicara tak tahu, Tuan Adigang akan dengan cepat mengutip kamus Jawa-Inggris susunan Elinor Clark Horne, terbitan Yale University Press tahun 1977. Kata itu berarti of outstanding quality, atau highly esteemed. Suatu sifat yang menunjukkan ketinggian mutu, keindahan dan kehalusan, juga keluhuran.

Itulah proses terakhir suatu seni dan budaya, kata Tuan Adigang suatu ketika. Sesuatu yang klasik. Sesuatu yang harus dijaga, karena ia dapat melindungi pribadi kita dari segala hal yang dekaden, kampungan, kasar, yang hanya memenuhi nafsu-nafsu rendah, seperti nampak pada kebudayaan modern, yang sensual murah dan hiruk pikuk.

Anda mungkin akan bertanya: apa yang adiluhung pada Ronggowarsito ? Apa yang klasik? Jika itu berarti karya Ronggowarsito adalah karya lama yang tetap menggugah, bukankah Ronggowarsito hidup dan menulis tiga abad setelah Shakespeare, dalam zaman ketika manusia sudah mengenal kapal api dan terusan besar dan gerakan sosialisme internasional? Dengan kata lain, tidakkah sang penyair Kalatida juga termasuk kurun modern”?

Tapi, tentu saja, Tuan Adigang bisa menjelaskan; kemodernan bukanlah sekadar soal catatan tahun. Kemodernan (yang bagi Tuan Adigang hampir sama dengan kemerosotan mutu, jika itu, “menyangkut dunia rohani”, katanya) adalah masalah pandangan. Dalam hal ini, Ronggowarsito bukan sembarangan. “Coba saja baca tulisan-tulisannya,” kata Tuan Adigang. “Tidak sembarang orang bisa menafsirkan isinya, isyarat dan ajarannya.”

Tulisan Ronggowarsito, seperti banyak karya sastra Jawa abad lalu, memang tak mudah dipahami. Bentuknya, yang berupa tembang, tersusun dalam serangkaian kata yang sulit. Jadi, Tuan Adigang benar. Dan rupanya orang mudah menganggap ketidakmudahan itu sebagai sesuatu yang mengandung misteri, dan misteri berarti kegaiban, dan kegaiban berarti kesaktian. Ronggowarsito pun menjadi legenda.

Maka, sebagai legenda, ia pantang ditelaah dengan analisa yang kritis. Ia bahkan tak lagi dianggap orang normal. Pernah sebuah harian memuat diskusi cukup panjang, setengah meragukan bahwa Ronggowarsito, suatu ketika dalam hidup, pernah berhutang.

Tak bisakah kita menyalahkan itu semua, juga Tuan Adigang? Ia bukan Purbatjaraka. Guru besar ini, yang begitu intim dengan kesusastraan tradisional, mungkin satu-satunya orang Jawa yang berani mengecam, dengan keras tapi dingin, karya Ronggowarsito. Baca, misalnya, Kasustraan Djawi, telaah Purbatjaraka yang terbit sekitar 30 tahun yang lalu. Purbatjaraka memandang Ronggowarsito cukup sebagai seorang pengarang – dan itu saja.

Kemudian adalah seorang wanita bernama Nancy K. Florida. Ia seorang peneliti Amerika yang beberapa tahun lalu menelaah karya-karya sastra Jawa. Baru-baru ini ia menulis sebuah esei yang menarik tentang sikap umum di masa kini terhadap kesusastraan Jawa tradisional. Florida, dalam Majalah Indonesia terbitan Cornell University nomor Oktober yang lalu, menunjukkan bagaimana sebuah kesusastraan akhirnya hanya jadi sebuah “jimat yang berdebu”, a dusty fetish : dianggap begitu luhur hingga tak hendak dibaca.

Akibatnya ialah sebuah kekeliruan yang bisa lucu. Florida suatu ketika menunjukkan satu contoh karya Ronggowarsito kepada seorang mahasiswa Solo, yang ingin menyanyikan suatu tembang tradisional dengan diiringi gitar – mungkin mengikuti kreasi Gombloh. Tembang itu diambil Florida dari Serat Jayengbaya. Si mahasiswa tak selesai membacanya karena tergelak-gelak. Isi tembang itu adalah sebuah cemooh yang ganas dan terang-terangan, tentang guru yang berlagak pintar dan tentara yang berlagak berani. Sang pujangga adiluhung ternyata juga seorang yang bisa kocak, dan cukup kasar. . . .

Tapi memang buat apa sebenarnya mengangkat kesusastraan jadi bagian dari sesuatu yang adiluhung, ketika itu berarti seperti mutiara pada tajuk: elok tapi beku? Bagi Tuan Adigang, jawabannya mungkin khas untuk orang seperti dia masa kini : Ronggowarsito juga seperti arloji Rolex Oyster dan sedan Mercy Tiger. Ia sesuatu yang tak mudah diraih orang lain, sesuatu yang menjaga statusnya, dan sebab itu harus dijaga pula. Kalau perlu dengan legenda.

2 Jan 1988

Minggu, 17 Juli 2011

CATATAN PINGGIR : Komunis

Di sebuah pabrik di Daratan Cina, ada tembok yang tak lagi dihiasi kutipan Mao. Sebaris kalimat lain yang kini terpampang : “Waktu adalah uang”. Di pasar Xao di Vientiane, Laos, yang sejak 1976 di bawah kekuasaan komunis, seorang saudagar kecil yang sekarang boleh berdagang dengan lebih leluasa berkata dengan kegembiraan yang berlebihan, “Kami sebebas di Amerika.”

Tidak sebebas itu tentu, cara pembangunan ekonomi yang dimulai oleh Stalin pada akhirnya macet. Ada masanya perencanaan yang sentralistis, dengan segala hal dikuasai negara, memang membuahkan pertumbuhan yang tinggi. Ada “pemerataan” – meskipun dengan catatan : para pemimpin partai mendapat privelese yang besar.

Tapi para birokrat yang harus memutuskan volume serta tujuan dari 24 juta produk yang satu sama lain berbeda-beda akhirnya toh pusing juga dan cenderung dan berlaku serampangan. Pertumbuhan GNP yang semula bisa mencapai 5% setahun dalam dasawarsa ini mengempis menjadi 2%. Dan Gorbachev pun ingin jadi juru selamat ketika menyerukan uskorenie atau akselarasi.

Ia tentu saja belum membiarkan orang macam Gekko hidup di Moskow seperti dalam film Wall Street, yang berseru bahwa “rakus itu bagus”. Gorbachev hanya mengaktifkan gerakan koperasi. Tapi para komunis garis-lama tahu bahwa koperasi itu ibarat serigala kapitalis yang berbulu domba sosialis – dan mereka sebenarnya tak begitu keliru: ada sekitar 14 ribu koperasi, dengan anggota sekitar 150 ribu di Uni Soviet yang hidup lebih nyaman ketimbang mereka yang bekerja di perusahaan negara.

Majalah The Economist pekan ini menulis bahwa di Uni Soviet koperasi sering dimusuhi para pejabat setempat dan pemimpin perusahaan negara, yang iri. Tapi Gorbachev kini menggariskan bahwa rasa iri tak boleh melahirkan permusuhan, melainkan persaingan. Beberapa ribu mil merah dari Kremlin, di Beijing, Cina, sebuah risalah di koran resmi Harian Rakyat juga menyimpulkan kekhilafan sosialisme: “Masyarakat sosialis tak dapat melenyapkan kompetisi”.

Bagaimana bila kompetisi itu akhirnya melahirkan yang menang dan yang kalah? Tak apa, kata Gorbachev. Tak apa, kata Harian Rakyat: dalam persaingan itu beberapa orang memang akan lebih dulu jadi kaya.

Orang akan bilang bahwa sosialisme yang tak bicara pemerataan bukanlah sosialisme. Tapi mau apa? Di Cina, tulis International Herald Tribun pekan lalu, peran ideologi memang sedang rontok. Dulu ideologi komunisme itu merupakan semacam panduan. Kini tampaknya ideologi yang sudah tua dan sempit dadanya itu yang harus terengah-engah mengejar perkembangan perubahan, untuk menyusulinya dengan sejumlah pidato pembenaran.

Memang waktu telah berlalu. Ketika memperingati 140 tahun Manifesto Komunis tahun ini, sebuah artikel di harian Guanming dengan terang menyatakan, “Marx dan Engels salah ketika mereka meramalkan bahwa kapitalisme akan surut dan sosialisme akan datang . . . .” Di Beijing ada contoh kesalahan Marx itu. Orang pernah dikutuk Mao sebagai “pengambil jalan kapitalis”, Deng Xiao Ping, kini memerintah dengan kukuh. Ia pernah mengatakan bahwa kucing boleh hitam boleh putih asala pandai menangkap tikus. Singkatnya: ideologi itu cuma soal kebutuhan.

Akhirnya komunisme memang bukan sejenis Roh Suci. Ia bisa salah dan ia bukannya sesuatu yang bisa terus-menerus membisikkan petunjuk kepada mereka yang beriman kepadanya. Ia bukan sesuatu yang kekal dan kuat sebagai inspirasi, terutama bila pusat-pusat inspirasi itu terbentur kesulitan besar: di Vietnam kini terjadi kelaparan. Di Polandia terjadi perlawanan buruh – justru di bawah kekuasaan yang mengatasnamakan kelas buruh.

Meka, seorang kenalan bertanya kepada saya: haruskah saya selalu bersikap gentar dan defensif terhadap satu kekuatan yang kini berpusar-pusar dengan segala isi kepala yang kemelut seperti itu? Haruskah saya membuat promosi gratis bagi PKI, dengan membayangkan bahwa sejumlah orang yang telah salah dan kalah di tahun 1965 di Indonesia itu kini tetap tangguh dan sakti bagaikan satria hantu yang bisa segala ilmu? Haruskah kewaspadaan akhirnya hanya ketakutan, dan akhirnya hanya kepanikan, dan akhirnya hanya kebingungan, dan akhirnya hanya pukul kanan pukul kiri?

Kenalan saya itu berkata, komunisme itu ide. Ia memang tak mati digertak dengan palu dan sepatu. Ia harus dilawan dengan ide dan sikap yang lebih baik. Kini saatnya: ide itu sedang rontok sebagai ide.

Jangan takut.

Dunia dan kenyataan memang berubah dengan cepat, terlampau cepat kadang-kadang bagi orang yang tersumbat jiwanya di masa lampau.

11 Juni 1988

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger | Printable Coupons